Rabu, 22 April 2020

ciri ciri ahli surga

MUDZAKAROH CIRI-CIRI AHLI SORGA

1. Wajahnya bercahaya.
2. Perkataannya hikmah.
3. Hatinya lembut.
4. Sifatnya dermawan.
5. Akhlaknya mulia
6. Lisan dan hatinya selalu berdzikir dan bersholawat
.
Cara Mendapatkan Wajah bercahaya :
1. Menjaga takbiratul ula bersama imam.
2. Menjaga sholat tahajjud
3. Menjaga wudhu.
4. Menjaga pandangan dari yang haram.
.
Cara Mendapatkan Perkataan Hikmah :
1. Sering membaca Al-Qur'an
2. Sering/selalu membicarakan kebesaran dan
ke-agungan Allah
3. Mengamalkan dzikir pagi-petang.
4. Menghindari perkataan berbohong dan sia-sia.
.
Cara Mendapatkan Hati Yang Lembut :
1. Sering duduk di majelis ilmu dan sholawat.
2. Sering duduk di majlis ta'lim.
3. Sering berkhidmad kepada orang sholeh.
4. Hindari berdebat walaupun benar.
.
Cara Mendapatkan Sifat Darmawan :
1. Sering membaca dan merenungi fadhilah sedekah.
2. Sering bergaul dengan orang miskin.
3. Menanamkan sifat qona'ah.
4. Tanamkan keyakinan "jika saya bersedekah
tidak membuat saya miskin dan jika saya tidak
bersedekah tidak membuat saya menjadi kaya" .
.
Semoga yang membaca dan mengamalkannya termasuk orang-orang yang dirindukan Syurganya Allah...

📲
*Official Fanpage*
Alhabib Quraisy Baharun

Senin, 20 April 2020

baik buruk

Bab : Tauhid
Sisi positif dan negatif malaikat dan iblis

harus mengetahui kedua sisi, negatif dan positif dari makhluk2 ini, agar engkau tidak terjebak sifat negatifnya malaikat dan iblis........
sifat negatif iblis:
1. suka membangkang, ini adalah ciri sifat bawaan jin
2. pendendam, dendamnya kpd manusia membuatnya bersumpah akan menyesatkan anak cucu adam seluruhnya
3. tidak mau meminta ampun istighfar
4. sombong merasa lebih baik dari manusia (ana khirun minhum) dsb
sifat positif iblis
1. ketauhidannya paling murni, maka dia tidak mau sujud kepada apapun selain Allah, termasuk tdk mau sujud kepada ilah ciptaan baru yaitu adam, walaupun itu Allah sendiri yang memerintahkan, tetap tidak mau sujud kepada selain Allah....... makanya saya selalu mengatakan hitam itu murni....
.
2. istiqomah dan sabar, dalam menyesatkan tdk pernah menyerah dan putus asa
3. ikhlas, walau selalu disumpahi dilaknat seluruh manusia tdk pernah marah
4. lebih mengerti rahasia Tuhan ketimbang malaikat dsb
.
.

sifat positif malaikat:
1. tunduk dan patuh sama Allah
2. suka menghamba dan memuji Allah
3. selalu menginginkan kepada kebaikan dan penghambaan kepada Allah
4. setia atas semua perintah Allah
sifat negatif malaikat:
1. pongah, sok suci, sok banyak ibadah merasa lebih dari yang lain
2. suka merendahkan dan mencela makhluk lain berdasarkan ibadahnya
3. suka memuji ahli ibadah,dan mencela ahli maksiyat
4. sok tahu, bahkan hendak mengajari Tuhan tentang apa yang terbaik dsb
5. Ketauhidannya tidak murni, masih menduakan dallam syirik, masih mau sujud kepada selain Allah, yaitu sujud kepada adam...... menghamba disatu sisi, menduakan disisi lainnya

Maka hal2 ini adalah agar menjadi pelajaran, agar bisa mengambil sisi positif dari iblis dan malaikat, kemudian mengeliminasi sifat negatif dari keduanya........... makanya saya katakan, beribadahlah yang baik sebanyak2nya berbuat kebaikan tanpa mencela orang2 yang masih buruk, karena saya mengerti sifat mencela itu datang dari waridnya ibadah, itu adalah sisi negatif malaikat.........
jangan pernah lupa, iblis pun berasal dari malaikat.........
.
👳‍♂Abah FK @fatwa.kehidupan

Minggu, 19 April 2020

???

Ya Tuhanku aku adalah makhluk mu yg Hina Bodoh tak ada daya tanpamu,, engkau ciptakan aku dari Hina,, tanpamu apa artinya diriku,, aku makhluk yg selalu mencari cintamu,, banyak kesalahan yg aku perbuat sampai tak ad yg mau mendekat kepada diriku,, kemana aku harus mencari cintamu?? Aku seorang anak yg tak berbakti,, Aku seorang Kk yg tak pernah membimbing,, Aku seorang Ayah yg Tak memberi contoh yg baik,, Aku seorang suami yg Tak pernah Berguna,, Aku seorang Sahabat yg tak pernah mengerti,, Aku seorang Sodara yg tak pernah Peduli.. Apa Gunanya engkau Ciptakan Aku Ya TuhanKu ,, kalau engkau hanya menjadi Diriku Perusak di Dunia nih,, hanya mempermalukan engkau yg menciptakan Aku,, seandainya engaku mengambil nyawaku apa pantas aku menemui mu,, engaku Ciptakan Aku dgn Ruh suci Mu tapi aku kembali dengan penuh Dosa kotoran Ku perbuat... Apa aku pantas kembali kepadaMu.. 😭🙏🏽😭

Selasa, 14 April 2020

MAKNA

Beribadah hanya sebatas menjalankan hidup tentu berbeda dengan menjalankan hidup dengan beribadah..

Ibadah tidak hanya di waktu2 tertentu dalam 5 waktu saja atau dalam di bulan Ramadhan..

Hakekatnya Ibadah adalah, kita dapat menjalankan hidup sesuai "Maunya Tuhan" dengan Sabar, Ikhlas, Tawakal dan Ridho, itulah hakikinya Beribadah bukan karena kewajiban sebagai sang hamba, akan tetapi itulah hakikinya beribadah hanya menjalankan ridho-Nya dengan Diam tanpa Mengeluh..

Semoga kita mampu menjakankan ibadah dalam keseharian hanya karena Ridho ALLAH..

Susah memang, karena maunya Allah belum tentu maunya kita, tapi harus dilatih agar kita bisa bermakrifat kepada-Nya Aamiin.

Kadang kita harus jeli, peka tentang petunjuk-Nya dalam menghadapi hidup...........
Bisa jadi itu sebuah jebakan agar kita bisa mengetahui mana yang haq dan bathil dalam menjalankan ibadah dengan sungguh2.......
Nafsu bisa memerankan dengan baik mengelabui jiwa sang hamba. Sehingga ia bisa berperan baik walau akhirnya bukan kebaikan yang datang....
Hati2 dalam menitih jalan Allah, mawas diri, eling, sigap harus tetap di jaga agar sesuatu tidak menyerumuskan kita ke dalam kesesatan...
Semoga kita semua dapat wushul (sampai) kepada-Nya dengan Selamat Lahir dan Bathin Aamiin...


Senin, 17 Februari 2020

~•~ D A L I L T A H L I L A N ~•~

~•~ D A L I L T A H L I L A N ~•~
Dalil tahlilan kok golek ing kitab Hindu ?
Ini dalilnya simak baik² !
3 hari
7 hari
25 hari
40 hari
100 hari
1000 Hari
Tak henti-hentinya Wahabi Salafi menyalahkan Amaliyah ASWAJA, khususnya di Indonesia ini, Salah satu yang paling sering juga mereka fitnah adalah Tahlilan yang menurutnya tidak berdasarkan Dalil bahkan dianggap rujukannya dari kitab Agama Hindu,
Untuk itu, kali ini saya tunjukkan Dalil-Dalil Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, Setahun & 1000 Hari dari Kitab Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan kitab dari agama hindu sebagaimana tuduhan fitnah kaum WAHABI.
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى
Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”
ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓن ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨
Berkata Umar: “Shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari,
dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari,
dan shodaqoh di hari ke tujuh akan kekal pahalanya sampai 25 hari,
dan dari pahala 25 sampai 40 harinya,
lalu sedekah dihari ke-40 akan kekal hingga 100 hari,
dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun,
dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”
Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)
Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan ?
Berkumpul ngirim doa adalah bentuk Shodaqoh buat mayyit.
ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮ ﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎما، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ
Ketika Umar menjelang wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib :
"Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abu bakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini !”
lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.
Referensi: [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110].
Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:
ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ
Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”
ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻳﻔﺘﻦ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻣﻨﺎﻓﻖ , ﻓﺎﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺳﺒﻌﺎ ﻭﺍﻣﺎﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺻﺒﺎﺣﺎ
Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”
Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhirnya beliau berkomentar lagi
ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ
Bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil.…dst.”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.
Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan :
ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .
“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.
Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)
Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada mayyit
ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ
Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.
Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)
Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;
ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ اَفْضَلَ ) المجموع جز 5 ص 258(
“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.
Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;
ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ. (ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺟﺰ 5 ص 258 )
“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.
Referensi : (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)
Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya, juga pendapat Imam Ahmad bin Hanbal
ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺮﺍَﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّـﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺍِﺫﺍَ ﺩَﺧَﻠْﺘﻢُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺍِﻗْﺮَﺋُﻮْﺍ ﺍَﻳـَﺔَ ﺍْﻟﻜُـْﺮﺳِﻰِّ ﺛَﻼَﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﺣَﺪٌ ﺛُﻢَّ ﻗُﻞْ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍِﻥَّ ﻓَﻀْﻠَﻪُ ِﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ .
Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.
Referensi : (al-Mughny II/566)
Dalam kitab al Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini :
ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﺍَﺣْﻤَﺪُ ْﺑﻦُ ﺣَﻨْﺒَﻞٍ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓـِﻌﻰ ﺍِﻟﻰَ ﺍَﻧـَّﻪُ ﻳَـﺼِﻞ
Imam Ahmad ibn hambal dan sebagian ulama pengikutnya, dan juga golongan ulama Syafi'iyyah berpendapat "bahwa apa yang dikirimkan kepada mayyit itu sampai kepadanya.
والله أعلم
#TahlilanSesuaiSyariat
#NgajiCerdas
#DakwahSantriMilenial

Senin, 04 Maret 2019

Menerima an hidup

"Hidup itu tentang penerimaan....

“Ikhlas itu tiada terucap. Ikhlas itu sembunyi dalam sunyi, bahkan lenyap dalam senyap. Ikhlas itu rahasia, tanpa kata meski bukan tanpa makna”

“Keikhlasan : ‘abadikan kebaikanmu dengan cara melupakannya’; Tak suka mengungkit kebaikan, tak pula mengungkap keburukan“

“Ikhlas tidak butuh pengakuan”

“Ikhlas adalah kesabaran untuk sadar dan kesadaran untuk sabar”

“Ikhlas itu kesadaran melepas”

Jika mengikhlaskan Allah, maka kita meridhai segala tindakan-Nya atas makhluk, termasuk diri ini.

Mengikhlaskan Allah berarti meridhai-Nya berbuat apapun terhadap diri kita; Bahkan musibah pun telah berhasil kita maknai sebagai Kasih Sayang Allah untuk menjemput pulang makhluk yang selalu dirawat-Nya.

Sering kali manusia tidak sadar betapa ia tidak ikhlas bahwa Yang Satu hanya Allah. Entah sengaja atau tidak sengaja, kita menuhankan hal-hal lain selain Zat-Nya. Entah itu kekuasaan, jabatan, harta, atau takhta. Kita juga suka bermain laksana Tuhan : menghakimi, mengadili, bahkan menjatuhkan hukuman atas nama kebenaran. Menyalahkan yang berbeda, mengkafirkan yang berlainan keyakinan, mengharamkan pemahaman yang selayaknya didiskusikan; Kita sok kuasa menyerobot kekuasaan Tuhan, padahal pasti gagal; Kita marah pada yang salah, gusar pada yang benar, mengutuk yang buruk, menampik yang baik. Entah apa onak di hati, segala yang mendarah daging harus sesuai yang diingini]

Allah itu Maha Esa, dan kita wajib mengikhlaskan-Nya demikian tanpa pertanyaan, tanpa perlawanan, dengan segala keniscayaan yang mutlak dalam kekuasaan-Nya.

Hamba-lah yang membutuhkan Tuhan, dan bukan sebaliknya. Allah adalah Allah, tak tergantikan. Tidak ada Tuhan baru, sebagaimana tidak ada Tuhan lama. Dia tidak terkungkung oleh ruang dan waktu yang merupakan ciptaan-Nya. Dia berhak, berkehendak, berwenang, berkuasa penuh untuk berbuat sesuka-Nya.

Kehendak Allah segala-galanya. Seluruh makhluk takluk. Pilihannya hanya satu : ikhlas.

Ikhlaskanlah Allah berbuat sesuai kehendak-Nya. Ikhlaskanlah Keesaan Allah dengan segala kemutlakan-Nya. Ikhlaskanlah Allah tanpa bertanya, tanpa mempertanyakan, tanpa berdusta, tanpa mendustakan, tanpa mendebat, tanpa membantah, karena itu semua percuma belaka. Ikhlaskanlah Allah, maka hati kita akan penuh Cinta.

Allah itu Penguasa segalanya. Apalah kita tanpa-Nya. Berhentilah melawan, segera berserah diri, rukuk, sujud. Percuma kita mengagungkan prestasi, itu karya Ilahi. Kehormatan, kekuasaan, kemuliaan, kekayaan, berasal dari Allah. Kepadamu mudah bagi-Nya memberi, semudah bagi-Nya mengambil kembali. Pun demikian halnya kehinaan, Dia Yang menguasai.

Dia Maha Berkehendak, dan bahkan tiada yang bisa menahan-Nya menghapus kehendak-Nya sendiri jika itu yang Dia kehendaki. Suka-suka Dia. Alam semesta ciptaan-Nya sendiri. Makhluk ciptaan-Nya sendiri. Tak ada yang bisa mempengaruhi-Nya untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dia-lah Sang Maha Pengatur, tak ada yang bisa mengatur-Nya. Ikhlaskanlah saja, ikhlaskanlah saja. Ikhlaskan dirimu, ikhlaskan Dia.

Ikhlaskanlah Allah berbuat sekehendak-Nya. Kepada Jibril yang bertanya tentang ikhlas, dari pertanyaan yang diajukan oleh Rasulullah Saw, dari seorang sahabat yang menanyakan hal itu, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyampaikan jawaban nan indah. Bisikkanlah kepada hatimu, dan mulailah mengikhlaskan segala sesuatu. Mulai dari mengikhlaskan Allah atas dirimu.

“Ikhlas adalah rahasia di antara rahasia-rahasia-Ku dan Aku menempatkannya di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.”(HR. Al Qazwani)

KOPI

KOPI iku tegese (Kopyor Pikire) mulo kopi iku rasane Pait.

Nanging sak pait paite kopi isih iso digawe LEGI (legowo ning ati)/berlapang dada/lega di hati.
Carane :
Kudu ditambahi GULO (Gulangane roso)/mengelola perasaan baik. Gulo asale seko TEBU (Antep ing kalbu)/mantab hatinya.
Banjur diwadahi CANGKIR (Nyancangne Pikir)/menguatkan pikiran/berpikir.
Terus disiram WEDANG (wejangan sing marahi padang)/nasehat yang menentramkan hati.
Ojo lali di UDHEG (usaha ojo nganti mandheg)/Usaha jangan sampai berhenti.
Anggone ngudheg nganggo SENDHOK (Sendhekno marang sing duwe kautaman)/Sandarkan pada Yang Maha Kuasa.
Dienteni ben rodo ADHEM (Ati digowo lerem)/ Hati dibawa tenang.
Bar kui diombe SERUPUT (Sedoyo rubedo bakale luput)/semua godaan akan terhindar.

Yah mene kopiku entek gaes😂😂😂

Rabu, 20 Februari 2019

Mulia & Hina

Ingatlah.... Tatkala Seseorang Memuji dan Memuliakan-Mu. Bukan.... Bukan Karena Kamu Berhak Atas Itu, Melainkan Karena Alloh Yang MAHA BAIK Telah Menutupi Aib Aib-Mu Diantara Hamba Hamba-NYA.

Ali Zainul Abidin RadhiyALLAHu ‘Anhu Dicacimaki di Jalanan. Beliau Tersenyum Menjawab; “Apa Yang Kau Sebutkan adalah Sedikit dari Banyaknya Aib-Ku Disisi-NYA”.

Banyak Orang Jadi MULIA Karena dengan Tepat Menyikapi HINAAN. Dan Banyak Orang Jadi HINA Karena Tidak Tepat Menyikapi KEMULIAAN.

Kenikmatan Terbesar adalah Anugerah KEHORMATAN, Mendapati Diri Dimuliakan Orang Lain, namun Tentunya AFATnya Juga Besar. Oleh Karenanya, Jika oleh Pemiliknya Tidak Diimbangi dengan MEMULIAKAN Orang Lain, maka Anugerah Inilah Yang Banyak Menjadikan Orang Yang Semula MULIA Menjadi HINA. Jika Tidak, maka ANUGERAH Ini Seringkali Dibarengi UJIAN BERAT bagi Pemiliknya. Maka Hendaklah Siapapun Tidak Terlena dengan Kehormatan Duniawi.

Hidup Ini Indah.... Jangan Kau Hilangkan Keindahannya dengan Ketidak Mampuan-Mu Mensyukurinya....

Mengutip Perkataan Abuya Almaliki :

الجَاهِلُ مَنْ لَمْ يَنْتَفِعْ مِنْ بَرَكَةِ الْمُنَاسَبَاتِ

~ أبوي المالكي~

“Orang Bodoh Ialah Orang Yang Tidak Bisa Mengambil Manfaat dari Berkahnya Momen Yang Baik”. ~ Abuya Almaliki ~

Hidup Memang Terlahir Tanpa Arti.... Kita Sendirilah Yang Mengartikannya. Karena Arti dari Hidup Tergantung kepada Bagaimana Kita Menjalaninya; Orang Yang MULIA Disisi Alloh Ta'ala Ialah Orang Yang Mampu Memanfaatkan Keadaan Yang Alloh Pilihkan Bagi-Nya (R.E.A.L.I.S.T.I.S) Untuk Meraih Ketaqwaan. Sedang Orang Yang Sibuk dengan Aib Orang Lain, Akan Bertambah Aib-Nya Tanpa Dia Sadari. Insya Alloh Begithu Yah. 😁

Meski Seorang SALIK Bisa Memilih Dua Jalan Untuk Mencapai Ridho Tuhan-Nya, yakni KHAUF/Takut Siksa-NYA dan ROJA’/Berharap Rahmat-NYA, namun Jalan KHAUF Jauh Lebih Aman daripada Jalan ROJA’, Hanya dengan Satu Alasan, Tidak seorang pun Tau Apa Yang Direncanakan Alloh Untuk Diri-Nya, karena ILMU ALLOH Meliputi Segala Sesuatu.

Asal Sama-Sama AIR, meski Yang Satu Campur Kopi Yang Satunya Campur Susu, Jika Dicampur Lagi malah Menjadi KOPI SUSU. Itulah Gambaran PERGAULAN Sesama Orang Beriman, meski Ada Beda Pendapat Mereka Tetap BERSATU. Tapi Jika Yang Satu Beriman Yang Satunya Munafiq, maka Seperti AIR dan MINYAK, meski Diaduk Yang Bagaimana pun Mereka Akan Tetap BERCERAI. Artinya, Jika Ada Sedikit saja Beda PENDAPAT Mereka Seperti Musuh Bebuyutan....

Maka Entahlah.... Saya Tak Tau.... Mana Yang Harus Kita Syukuri Lebih Dulu; Nikmat dari Alloh Yang Tak Terhitung, ataukah Penutupan AIB Dari-NYA Yang Begithu INDAH. 😁

Selasa, 12 Februari 2019

Diniyah Takmiliyah Wali Perkasa

Saya menulis tentang Perdikan Cahyana dan Sejarah Perkembangan Agama Islam di Bumi Cahyana ini bertujuan agar saya sendiri pada khususnya dan para mayarakat yang tinggal di Cahyana serta lingkungan sekitar pada umumnya dapat mengetahui dengan paham dan jelas tentang kisah-kisah yang terjadi di Perdikan Cahyana. Selain itu, dengan penulisan ini semoga dapat memberikan kita pelajaran yang berharga untuk lebih beriman kepada Allah dengan sebenar-benar iman dan mencontoh semangat dari para leluhur kita dalam berislam dan menyebarkan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Daerah Perdikan Cahyana berada di Kecamatan Karangmoncol dan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Di Kecamatan Karangmoncol  ada 13 daerah perdikan, diantaranya : Grantung Andhap, Grantung Kidul, Grantung Gerang, Grantung Lemah Abang, Grantung Kauman, Pekiringan Kauman, Pekiringan Lama, Pekiringan Anyar, Pekiringan Bedhahan, Tajug Lor, Tajug Kidul, Rajawana Lor, dan Rajawana Kidul. Sementara itu, 8 desa yang terdapat di Kecamatan Rembang, diantaranya : Makam Wadhas, MakamBantal, MakamTengah, Makam Dhuwur, Makam Kidul, Makam Jurang, Makam Panjang, dan Makam Kamal. Status Perdikan dihapus oleh pemerintah Republik Indonesia pada masa Orde Lama. Berakhirnya kekuasaan 21 orang demang diyakini oleh masyarakat bahwa para demang telah melanggar piagam danwewaler perdikan. Selain itu, mereka berbuat tidak adil serta memperkaya diri sehingga mereka harus diturunkan. Penghapusan desa-desa perdikan telah mengubah status tanah dari keputihan menjadi tanahpamajegan. Dengan kata lain, tanah tersebut menjadi tanah negara. Tanah-tanah keputihan di daerah Perdikan Cahyana adalah tanah-tanah bebas pajak yang diluluskan oleh Sultan Demak dan dilestarikan oleh para Raja Jawa sesudahnya dan pemerintahan Kolonial Belanda. Saya mendapatkan cerita ini dari beberapa masyarakat yang mengetahui cerita ini dan dari buku yang dijual di sekitar ziarah kubur para Wali yang dimakamkan di Cahyana. Serta mendapatkan artikel di internet yang ditulis Sugeng Priyadi. Artikel tersebut dengan sumber atau daftar pustaka sebagai berikut dan dapat anda download disini. Salah satu sumber sejarah Perdikan Cahyana adalah piagam-piagam dan beslit-beslit A.M. Kartosoedirdjo dalam naskah Tjarijos Panembahan Lawet yang disusun pada tahun 1941(Behrend, 1990: 77-78) memuat daftar piagam dan beslit yang diterima oleh para pengelola desa Perdikan di Cahyana. Naskah koleksi Museum Sana Budaya dengan kode PB.A. 271 itu sangat berguna untuk melacak keberadaan piagam dan beslit tersebut. Piagam yang diterima adalah 3 piagam, isi piagam yang diberikan oleh Sultan Demak(1403 AJ) dapat dilihat disini, sedangkan piagam dari Sultan Pajang (1503 AJ) dapat dilihat disini, dan isi piagam dari Ki Gede Mataram dapat dilihat disini. Ketiga Piagam tersebut menunjukan bahwa bumi Cahyana adalah bumi perdikaning Allah, bukan perdikaning  ratu. Sultan Demak, Pajang dan Ki Gede Mataram hanyalah meluluskan dan melestarikan perdikaning Allah kepada Mahdum Wali Prakosa. Begitu pula dalam kasus piagam raja-raja Jawa muslim, piagam-pigam tersebut menguatkan eksistensi Perdikan Cahyana dengan gutukullah, gutuking Allah, bebenduning para wali, dan ora olih berkahingsun. Dengan demikian, status perdikan menjadi tradisi secara terus menerus karena perubahan pusat politik tidak akan mengubahnya, bahkan piagam dari pusat yang lama akan didukung oleh pusat yang baru dan seterusnya. Pangeran Wali Syekh Atas Angin adalah seorang mubaligh Islam dari negara Arab yang termasuk keturunan Rasulullah SAW dari keturunan Sayidina Ali dengan Siti Fatimah. Nama beliau yang sebenarnya adalah Syarif Abdurahman Al-Qadri. Sesudah sholat Subuh beliau mendapat ilham bahwa di sebelah timur terdapat tiga buah cahaya putih yang menjulang sangat tinggi ke angkasa. Maka beliau beserta 200 orang pengiringnya pergi dari negara Arab, bermaksud akan mencari cahaya tersebut. Dalam perjalanannya beliau singgah di Gresik dan Pemalang, kemudian terus menuju ke Gunung Cahya hingga beliau menemukan cahaya tersebut. Pangeran Wali Syekh Atas Angin berdiam di Cahyana selama 45 tahun. Perkawinannya dengan Nyai Agung Rubiahbekti berputra lima orang, tiga orang putra dan dua orang putrid, yaitu: 1.      Pangeran Wali Makhdum Kusen/Husen (Kayupuring), makamnya di desa Rajawana, Kecamatan karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. 2.      Pangeran Makhdum Medem, makamnya di Cirebon. 3.      Pangeran Makhdum Umar, makamnya di pulau Karimun. 4.      Nyai Rubiahraja, makamnya di Ragasela. 5.      Nyai Rubiahsekar, makamnya di jambagan, Banjarnegara. Pangeran Wali Syekh Jambukarang berasal dari Jawa Barat, putra dari Prabu Brawijaya Mahesa Tandreman, Raja Pajajaran I. Ketika masa mudanya beliau bernama Adipati Mendang (R. Mundingwangi). Tradisi Sadjarah Padjajaran Baboning Tjarios saking Adipati Wiradhentaha Boepati Prijangan Manondjaja menyebutkan bahwa Jambukarang merupakan raja Pajajaran yang bergelar Prabu Lingga Karang atau Prabu Jambu Dipa Lingga Karang (bdk. Soetjipto, 1986:14-20). Sebenarnya beliau menggantikan ayahnya menjadi raja di Pajajaran, tetapi beliau lebih tertarik kepada pendeta (bertapa) dan kerajaan diserahkan kepada adiknya yang bernama R. Mundingsari, yang dinobatkan pada tahun 1990 M. Beliau kemudian bertapa di gunung Jambudipa. Beliau berganti nama menjadi Jambukarang, begitu pula gunung tempat beliau bertapa hingga sekarang terkenal dengan nama Gunung Karang (di Karesidenan Banten, Jawa Barat). Pada saat beliau bertapa di gunung Jambudipa (Gunung Karang), tampaklah nur/cahaya (cahya bahasa Jawa) tiga buah, di sebelah timur dan putih warnanya menjulang sangat tinggi ke angkasa. Maka dicarilah nur/cahaya itu beserta 160 pengikutnya dan terdapatlah cahaya itu di Gunung Panungkulan (sekarang dikenal dengan nama Gunung Cahya) di desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah. Dalam perjalanan mencari cahaya itu beliau melalui : 1.      Kerawang, terus berlayar ke timur sampai di Jatisari. 2.      Sungai Comal, disini agak lama dan sekarang terdapat petilasan Geseng. 3.      Gunung Cupu terus mengikuti alirnya sungai Kuripan. 4.      Gunun Keraton terus ke selatan menuju gunung Lawet. 5.      Bocong sana terus ke selatan sepanjang sungai Ideng, Kedung Budah, Kedung Manggis atau Kesimpar. 6.      Penyidangan (sekarang bernama Desa Rajawana). 7.      Karangarum (sekarang bernama Desa Makam) terus ke selatan sampailah di Gunung Panungkulan (Gunung Cahya). Kekeramatan atau kesaktian Pangeran Wali Syekh Jambukarang dengan pertolongan Allah SWT antara lain : 1.      Pecinya bisa terbang ke angkasa. 2.      Menumpuk-numpuk telur ke udara satu persatu tidak jatuh. 3.      Dapat membaca surat yang tidak bertulisan. 4.      Gunung-gunung tunduk ke Gunung Keraton (Lawet) ketika diberi ilmu kewalian. 5.      Menggandeng tempat-tempat air ke udara (ke angkasa) tidak tumpak airnya. Adanya telur dan air yang dapat ditumpuk ke udara dan bergantungan di atas ketika beradu kesaktian dengan Pangeran Wali Syekh Atas Angin maka tempat sebagai adu kesaktian tersebut di kenal dengan nama Grantung. Desa Grantung terletak di Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Setelah wafatnya Pangeran Wali Syekh Jambukarang, perjuangannya diteruskan oleh keturunannya, yaitu cucunya yang bernama Pangeran Wali makhdum Husen. Ketika Pangeran Wali Syekh Atas Angin sampai di tempat munculnya cahaya tersebut dan ternyata disitu telah ada seorang yang berada di dekat cahaya dan sedang bertapa, tak lain orang tersebut adalah Jambukarang. Kemudian beliau mengucapkan salam kepada secara islami yaitu Assalamu’alaikum kepada orang tersebut, berulang beliau mengucapkan salam akan tetapi tak ada sepatah kata jawaban karena pada saat itu Jambukarang masih memeluk agama Hindu. Dianatara keduanya pun akhirnya mengadu kesaktian sehingga kemenangan berada pada Pangeran Wali Syekh Atas Angin. Dengan perjanjian semula bahwa siapapun yang kalah maka akan beralih ke agama kepada agama sang pemenang. Jambukarang kemudian bersyahadat untuk masuk agama Islam sehingga beliau bergelar “Pangeran Wali Syekh Jambukarang”. Sebelum masuk Islam beliau terlebih dulu harus memenuhi segala syarat rukunnya, antara lain mandi taubat, memotong rambut, dan syarat rukun islam lainnya. Petilasan sebagai tempat pertaubatannya pun sekarang masih ada. Ketika Pangeran Wali Syekh Jambukarang akan diberi ilmu Kewalian oleh Pangeran Wali Syekh Atas Angin, maka beliau meminta supaya mengambil tempat di Gunung Keraton saja, hingga saat ini masih ada petilasannya dan dikenal dengan Gunung Lawet hingga sekarang. Pada saat Ilmu Kewalian itu diajarkan (dalam bahasa Jawa disebut diwejang), semua gunung yang berada di sekitar Gunung Keraton puncaknya tunduk mengarah kepada Gunung Keraton, hingga saat ini masih dapat dilihat bekas-bekasnya. Akan tetapi ada satu gunung yang tak tunduk puncaknya, maka terkenalah gunung tersebut dengan nama Gunung Bengkeng (membandel). Sebagai tanda terima kasih Pangeran Wali Syekh Jambukarang kepada Pangeran Wali Syekh Atas Angin, maka putrinya yang bernama Nyai Rubiahbekti dikawinkan dengan beliau. Untuk menyempurnakan keislamannya, Pangeran Wali Syekh Jambukarang menunaiakn ibadah Haji ke Tanah Suci (Mekah). Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau dikenal sebagai Mubaligh Agung dan diberi gelar Haji Purwa/Purba. Nama Gunung Lawet berasal dari kata khalwat, jadi merupakan tempat untuk berkhalwat / tabarrur yaitu mendekatkan diri kepada Allah, seperti Rasulullah SAW berkhalwat di Gua Hira’ untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT Dengan kodrat dan iradat Allah SWT maka timbullah nur / cahaya (dlam bahasa jawa disebut cahya) di Gunung Panungkulan, sebanyak tiga buah, menjulang tinggi ke angkasa dan putih warnanya. Gunung Panungkulan terletak di desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Menurut riwayat yang dapat melihat dan menemukan nur/cahya yang timbul di Gunung Panungkulan hanyalah Pangeran Wali Syekh Atas Angin dan Pangeran Wali Syekh Jambukarang. Beberapa nama dari tiga buah nur / cahaya yang timbul di Gunung Panungkulan serta arti yang terkandung di dalamnya: 1.      Dinamakan Cahyana, sebab cahaya tersebut dapat membuat terang di dunia ini. 2.      Dinamakan Wonosepi, sebab timbulnya cahaya tersebut ghaib, dahulunya tidak ada sama sekali dan kemudian timbul dengan sendirinya. 3.      Dinamakan Wonokerso, sebab memang tujuan nur/cahaya tersebut ghaib. 4.      Dinamakan Wonokesimpar, sebab ghaib, sering dibicarakan dan disinggung, tetapi jarang yang mengetahui hal sebenarnya. 5.      Dinamakan Pengadanagan, sebab benar-benar cahaya tersebut diharap-harapkan oleh ummat manusia di dunia ini. 6.      Dinamakan Cahyana, sebab mempunyai kekuatan atau kekuasaan untuk membuat terang awal ummat manusia sejagat. 7.      Dinamakan Tanggeran, sebab menjadi pertanda bagi orang sejagat. 8.      Dinamakan Kojur, sebab membuat hancur/sial/celaka kepada kehendak jahat manusia sejagat. 9.      Dinamakan juga Kecepit. 10. Dinamakan Rajawana. Sepuluh nama dari tiga cahaya tersebut merupakan sifat cahaya tersebut. Kalau kita ingat bahwa timbulnya cahaya itu, sebelum Agama Islam masuk ke Cahyana, yaitu sebelum datangnya Pangeran Wali Syekh Atas Angin untuk membawa Agama Islam. Maka benar-benarlah bahwa nur/cahaya itu merupakan pertanda akan datangnya petunjuk Allah (Agama Islam) di daerah Cahyana khususnya dan di daerah lain pada umumnya. Pangeran Wali Makhdum Husen mengantikan ayah dan kakeknya memimpin Cahyana. Sudah sejak masa Pangeran Wali Syekh Jambukarang, Pajajaran tidak senang kepada daerah Cahyana, Karena berlainan pandangan, yaitu Pajajaran menganut Agama Hindu, sedangkan Cahyana menganut Agama Islam. Maka pada masa Pangeran Wali Makhdum Husen diseranglah Cahyan oleh Pajajaran dengan jumlah yang besar dan dipimpin oleh seorang Patih menyerbu Cahyana, akan tetapi berkat pertolongan Allah SWT dan keberanian Pangeran Wali Makhsum Husen, serta keuletan para santri pengikutnya, tentara Pajajaran dapat dikalahkan dan kembali ke Pajajaran dengan tangan hampa. Pada saat menghadapi serangan tentara Pajajaran, tampaklah kekeramatan Pangeran Wali makhdum Husen, yaitu pada malam hari beliau memohon kepada Allah SWT dengan menjalankan sholat hajat, maka berdatanglah lebah berbondong-bondong banyak sekali dan menyerang balatentara Pajajaran, sehingga balatentara Pajajaran lari tunggang langgang sampai jauh dari daerah tapal batas Cahyana. Akan tetapi berhenti di sebelah barat sungai. Dengan serta merta datanglah makhluk halus yang besar dan akan menghancurkan balatentara Pajajaran, maka larilah semua sisa tentara dar sebelah barat sungai tersebut. Sebagai peringatan maka sungai tersebut diberi nama sungai Mulih (dalam bahasa jawa) yang artinya pulang, karena dari sungai inilah tentara Pajajaran pulang. Dan hingga saat ini sungai tersebut masih ada yang terletak di Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah. Tak ketinggalan pula para santri dan pengikutnya dipimpin supaya berdo’a memohon pertolongan Allah SWT. Dan do’a tersebut hingga saat ini terkenal dengan nama Braen. Braen ini diadakan tiap-tiap hari Besar Islam hamper di semua daerah Cahyana dan sering juga digunakan untuk sesuatu hajat yang lain. Kesenian Braen ini dilakukan oleh orang-orang wanita, dengan bunyi-bunyian terbang. Pemimpin Braennya namanya Rubiyah. Jumlah bait do’anya lebih kurang 50 bait. Isi Braen bermacam-macam, antara lain doa, sejarah, pendidikan, ketauhidan dan lain-lain. Adapun salah satu contoh bait Braen berisi doa : Tulung matulung, tulung Tuan Para Wali lilirna nyawa nira Lilirna ing jagate kelawan sir Allah Para Wali bukakna lawang ing sepangat Nabi Lawan sepangat Allah Artunya : Mohon pertolongan kepada Allah SWT Para Wali supaya membangkitkan semangat Membangkitkan dunia dengan perintah Allah Para Wali supaya membuka pinti pertolongan Yaitu safa’at Allah dan Rasul-Nya Makam Pangeran makhdum Husen terletak di desa Rajawana, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Pangeran Makhdum Wali Prakosa adalah putra dari Pangeran Makhdum Jamil bin Pangeran Wali Makhdum Husen. Beliau semasa dengan jaman Wali Sanga, dan Kerajaan Islam Demak. Hubungan Cahyana dengan Demak sangat bagus dan erat, sebab kedua belah pihak menganut Agama Islam. Apalagi beliau turut serta dalam pembuatan Masjid Demak, bahkan mendapat bagian membuat soko guru masjid bersama Sunan Kalijaga, yang soko tersebut kemudian terkenal dengan nama Soko Tatal. Begitu pula ketika arah masjid masih belum tepat mengarah kiblat, Beliau turut serta membenarkannya. Do’a Beliau dapat diterima Allah SWT sehingga beliau dapat meluruskan arah masjid dengan palu besar menjadi tepat arah kiblatnya. Karena kekuatan dan keperkasaannya maka beliau terkenalah dengan nama Wali Prakosa (kuat sekali). Hubungan Cahyana dengan Demak bertambah erat lebih-lebih setelah Demak dengan tegas mengakui kemerdekaan Cahyana. Cahyana dapat bantuan seorang guru/mubaligh, bahkan guru tersebut meninggal di Cahyana. Adapun mengenai pengakuan Demak terhadap Cahyana dapat dilihat pada piagam yang tertulis di bawah ini: Turunan Piagam Atau Surat Pengakuan dari Kerajaan Demak “Penget layang kang idi Pangeran Sultan ing Demak, kagaduha dening paman Makhdum Wali Prakosa ing Cahyana. Mulane anggaduh laying ingsun dene angrowangi melar tanah Jawa, sun tulusaken pemerdikane pasti lemah pemerdikaning Allah, tan taha ana angowahana ora sun wehi suka khalal dunya akhirat, anaa anak putu hamba anganiaya muga kena ing gutuking Allah lan oleh bebenduning para wali kang ana ing nusa Jawa. Esti yen peperdikaning Allah. Artinya : Bahwa kami sebagai Sultan Demak, memberikan tanda piagam ini. Kepada paman Makhdum Wali Prakosa di Cahyana. Mengingat bahwa yang bersangkutan telah membantu menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa, kami tetapkan langsung kemerdekaannya. Pasti tanah ini benar-benar merdeka karena Allah. Barang siapa berani merubah, kami tidak khalalkan dunia dan akhirat. Bila ada anak cucu kami yang berani merusak, moga-moga mendapat kutuk Allah dan semua Wali yang ada di pulau Jawa. Bahwa benar-benar tanah merdeka karena Allah. Makam Pangeran Makhdum Wali Prakosa terletak di desa Pekiringan, Kecamatan Karangmoncol, kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Pangeran Wali Makhdum Cahyana adalah putra dari Agiyana di Ampeldenta dan menantu Pangeran Makhdum Wali Prakosa, suami dari Pangeran Estri. Pada saat Pangeran Makhdum Cahyana bersama saudara perempuannya akan menuaniakan ibadah Haji, berangkat dari Ampel singgah di Cirebon. Kemudian menetap beberapa waktu pada Sultan Cirebon. Selanjutnya saudara perempuannya diambil sebagai istri Sultan Cirebon. Karena sesuatu hal yang tidak baik, maka Pangeran Wali Makhdum Cahyana bersama saudara perempuannya, pada waktu malam hari lolos dari Kasultanan Cirebon secara rahasia. Dari Cirebon dengan mengambil jalan melalui hutan belantara, sehingga badannya banyak yang menderita luka, dan akhirnya sampailah di Cahyana. Kemudian beliau berguru menjadi santri dari Pangeran Makhdum Wali Prakosa. Karena banyak luka-luka pada badannya, maka terkenalah dengan nama Santri Gudig. Lama beliau menjadi santri dari Pangeran Makhdum Wali Prakosa. Di dalam pesantren beliau sangat patuh kepada gurunya dan pandai, cakap susila serta mempunyai beberapa keistimewaan yang jarang ada bandingannya. Oleh Karena itu Pangeran Makhdum Wali Prakosa sangat kasih sayang kepada beliau dan akhirnya diambil sebagai menantunya. Kesaktian Pangeran Wali Makhdum Cahyana antara lain: 1.      Kain yang sedang dipakainya waktu tidur malam hari bercahaya seperti ada apinya. 2.      Mempunyai keahlian mengambil ikan air yang sangat luar biasa. 3.      Mempunyai keahlian bertani yang istimewa sehingga hasil pertaniannya luar biasa baiknya. 4.      Mempunyai ilmu rahasia untuk menghilang, sehingga musuh tidak sempat dan tak dapat mencarinya. 5.      Dapat memerintah batu-batu supaya berjalan sendiri ketika beliau membuat lantai rumah, sehingga seperti binatang ternak yang digiring, dan beliau mengambil ranting pohon waru sebagai cambuknya. Barang-barang peninggalan Pangeran Wali Makhdum Cahyana anatara lain : 1.      Lumbung padi, sebenarnya lumbung ini sebagai tempat pengumpulan padi zakat yang digunakan untuk kesejahteraan lahir batin sesuai dengan ajaran Islam. 2.      Langgar untuk sholat dan pengajian. 3.      Sorban hijau muda (seperti sorban haji). 4.      Sorban hitam tua. 5.      Kain lurik kepyur. 6.      Kain batik barong. 7.      Kitab-kitab. 8.      Ceret tembaga. 9.      Kendil/periuk tembaga. 10. Terbang. 11. Golok / pedang. Setelah wafat beliau dimakamkan di desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Keduanya adalah putra dari Pangeran Makhdum Tores. Makhdum Tores merupakan saudara kandung dari Pangeran Makhdum Wali Prakosa, beliau dimakamkan di Bogares (Tegal). Setelah Pangeran Makhdum Cahyana wafat, maka Kiai Pekeh/Fakih dan mas Barep yang menggantikan pimpinan daerah Cahyana. Mulai Liai Pekeh/Fakih dan mas Barep inilah timbulnya pembagian pimpinan keluarga Cahyana menjadi dua pimpinan kepala keluarga, dari keluarga keturunan Pangeran Wali Syekh Jambukarang. Seterusnya berkembang biak, hingga sampai waktu sekarang ini telah menjadi 21 kepala keluarga. Dari kepala keluarga ini berkembang menjadi ribuan jumlahnya, baik di daerah Cahyana sendiri maupun di luar daerah Cahyana. Kesaktian Kiai Pekeh/ Fakih dan mas Barep: 1.   Kiai Pekeh/ Fakih dengan pertolongan Allahdapat sholat di atas pelepah pohon pisang yang masih berdiri. 2.   Mas Barep dengan pertolongan Allah dapat mendatangkan angin rebut, sehingga pohon-pohon jati di hutan jati daerah Tegal banyak yang roboh sumber : http://scqolbu.com/perdikan-cahyana.html Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub

Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub

Jumat, 14 Desember 2018

Hakikat cinta

"Hakikat Cinta"

Orang yang begitu sangat cintanya bukanlah orang yang mengharapkan balasan sesuatu dari pihak yang dicintainya atau dia menuntut sesuatu maksud dari pihak yang ia cintai, karena orang yang begitu sangat cintanya itu ialah orang yang memberi buat anda, bukanlah orang yang begitu sangat cintanya itu merupakan orang dimana anda memberi buatnya.^^

Kalimat penuh makna dan hikmah ini memang sepintas lalu sulit utk memahaminya, agar dapat dipahami,Insya Allah akan saya sampaikan.
Begini :

Apabila cinta dapat dilukiskan melalui huruf, tulisan dan maksud-maksud tertentu, pada hakikatnya itu tidak dapat dikatakan cinta atau mahabbah. Karena cinta yang demikian, adalah cinta yang dapat dibuat, demi untuk sampai kepada tujuan yang dikehendaki.^_^

Karena itu, barangsiapa yang mencintai seseorang supaya seseorang itu memberikan sesuatu kepadanya atau menolak sesuatu yang tidak baik daripada yang mencintai, berarti orang yang mencintai itu adalah mencintai dirinya sendiri, bukan mencintai orang yang dicintai.^^

Karena,kalau bukanlah sesuatu yang dituju oleh dirinya sendiri tidak ada, maka pastilah dia tidak akan mencintai orang yang dicintainya itu.^^

Maka dari itulah,hakikat cinta pada orang yang mencintai, adalah memberikan keseluruhan yang ada pada dirinya demi untuk mendapatkan kerelaan daripada pihak yang dicintainya. Tanpa ada sesuatu yang ia ingin capai, berupa sesuatu yang sifatnya lahiriah dari pihak yang dia cintai. Sehingga tidak ada apa-apa lagi yang dimiliki olehnya, selain semuanya itu ia serahkan kepada pihak yang ia cintai. ^_^

Atau dgn kata lain saya katakan begini :
bahwa yang mencintai adalah dibunuh oleh kecintaannya itu, sehingga tidak ada tujuannya selain daripada kerelaan dari pihak yang dicintai.

Misalnya :

seorang laki-laki mencintai seorang wanita. Laki-laki itu berkata: "Aku betul-betul cinta padamu." Wanita itu menjawab: "Betapa kamu cinta kepada saya, padahal yang duduk di belakang kamu itu adalah lebih baik."
Mendengar itu, si pria menoleh ke belakangnya, maka setelah wanita itu melihat bahwa pria itu menolehkan pandangannya kebelakang,diapun berkata: "kamu ini adalah manusia yang tidak baik.ucapan dan perbuatanmu tidak sejalan, kamu mengatakan begitu cinta kepadaku, tetapi kamu palingkan wajah kamu melihat kepada selainku."^^

Itulah sebuah contoh.semoga paham ya sahabat.^^

Nah, sekarang jika contoh ini kita kiaskan kepada hubungan cinta kita selaku hamba Allah kepada Tuhan Pencipta alam, Allah Azza wa Jalla,maka juga demikian.^^

Kita mengatakan kepada diri kita dan kepada orang lain, bahwa kita cinta kepada Allah, tetapi juga hati kita memalingkan cinta kita kepada sesuatu yang selain Allah Ta'ala, atau merasakan sesuatu selain Allah Ta'ala, yang mempengaruhi hati kita.^^

Maka ini menunjukkan cinta kita kepada Allah tidak full,antara ucapan dan perbuatan tidak sejalan,berseberangan,berbeda, tidak lebih daripada dakwaan semata-mata. ^_^

Selanjutnya Sahabat2ku,yg perlu kita ingat dan kita niatkan dihati kita agar menjalankannya sesuai dan selaras antara ucapan dan perbuatan kita,Apabila kita begitu mencintai sesuatu, maka hendaklah jiwa raga kita itu, kita berikan buat sesuatu itu.
Demikian pula, kecintaan seseorang kepada orang yang dia cintai, dia harus memberikan segala-galanya kepada pihak yang dia cintai. Dan bukanlah kebalikannya.^^

Demikian juga halnya dengan  kecintaan kita kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya.^^
Karena itu, apabila kita beribadah karena mengharapkan syurga-Nya berarti kita mencintai Syurga, Dan bukan mencintai Allah Azza wa Jalla Sang Pemilik Surga tersebut. ^^

Sebab Sahabat,
hakikat cinta kepada Allah, hanya tertuju semata-mata kepada Allah dan kita lupa kepada hal-hal yang lain selain dari-Nya.Apakah kecintaan kita pada Allah Ta'ala itu merupakan keuntungan kita berupa pahala dari Allah ataukah itu merupakan hajat-hajat kita kepada-Nya.^^

Semoga memahami makna yg disampaikan dgn hikmah yg baik di hati.

Barakallah.^_^

Syukur dalam segala keadaan..

Tetap bersyukur dalam segala keadaan....

"Semua dalam pengaturaNya biarkan semua terjadi sesuai kehendakNya inginku inginmu adalah ketidak mungkinan yang kita semogakan karna aku percaya semua tak lepas dari kuasa dan kehendak Nya....

"Segala hal boleh terjadi,tetapi ada satu yang tak boleh berubah Keyakinan dan pengharapan kita kepada Allah.....

Ya Robbi,
Jadikan aku hamba-Mu yang sabar,dari segala perkara yang bukan hak-ku....

Menjadi hamba-Mu yang ikhlas,atas segala kewajiban,yang Engkau pilihkan untuk-ku....

Dan sampaikanlah derajat-ku pada derajat hamba-hamba-Mu yang bersyukur menerima ketetapan demi ketetapan-Mu dalam setiap sisi kehidupan-ku...

#Semoga semua mahluk berbahagia....

PON terjebak'

Tanda Batin Weton Pon Sering Tertipu “Doa Menjadi Kaya” Namun Faktanya Rezeki Tak Naik dan Hidup Tak Berubah Weton Pon dikenal memiliki daya...