Kamis, 17 November 2016

KITAB KUNING TERUS JALAN, EKONOMI JUGA HARUS DIPIKIR DAN DIKEMBANGKAN

KITAB KUNING TERUS JALAN, EKONOMI JUGA HARUS DIPIKIR DAN DIKEMBANGKAN

Saya malam ini mendapat suatu kekaguman yang luar biasa. Kekaguman tersebut membangkitkan kembali untuk lebih jauh menguak beberapa manaqib atau sejarah dan mutiara-mutiara terpendam yang sudah banyak dilupakan. Sehingga, jangankan kiai yang jauh kiai yang berasal dari daerah sendiri saja banyak yang melupakan bagaimana sejarah perintisan pesantren atau madrasahnya. Sudah sangat jarang yang mau mencatatnya.

Padahal mereka adalah pelaku sejarah. Dimana para santri atau warga wilayah masing-masing jangan sampai kepaten obor (melupakan sejarah; red.). Karena sudah kepaten obor, terutama kita sendiri, sehingga sebagian tidak mau mencatat sejarah. Ujung-ujungnya kalau sudah kepepet baru melakukan ikhtiar tanya sana-sini, Tanya kepada Sarkub (Sarjana Kuburan). Itu akibatnya.

Maka dari itu, adanya haul seperti ini menjadi benteng yang luar biasa. Karena lewat lantaran seperti haul, maulidan, manaqiban, tahlilan, yasinan, nariyahan, dlsb. para ulama bisa memandang santri serta umatnya, umat bisa memandang ulama-kiainya, pejabatnya juga demikian, bisa berkumpul berkumpul bersama. Apabila kekuatan luar biasa tersebut tetap terjaga di Indonesia, itulah bagian dari kekuatan NKRI. Makanya oknum-oknum manusia dengan melihat yang demikian itu akan gatel kupinge (hasud), bagaimana caranya agar bubar dengan segala cara.

Karena di dalam kegiatan maulid atau haul akan membuka riwayat per-riwayat setiap para masyayikh, guru-guru kita semua. Tremas bagian dari pesantren tua. Diantara pondok-pondok pesantren yang ada di Jawa Timur mulai dari Kiai Hasan Besari serta para keturunannnya sangat banyak yang menyebar bukan hanya di Jawa Timur tapi juga Ngroto, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah.

Dan rata-rata, Subhanallah, dari para muridnya Mbah Dim (KH. Dimyathi Tremas) 95% banyak yang jadi ulama dan wali, termasuk guru saya sendiri yakni Mbah Kiai M. Arsyad Bendokerep Cirebon. Beliau merupakan santri yang lama menimba ilmu dari Mbah Dim, hingga melanjutkan ke Mekkah berguru pada Kiai Mahfudz at-Turmusi (Tremas). Mbah Kiai Abdullah Hadziq Balikambang juga santri yang lama menimba ilmu dari Mbah Kiai Dimyathi Tremas. Para murid yang lainnya antara lain Mbah Kiai Dimyathi Kedawung dan banyak para ulama dari Jawa Barat, Jawa Tengah, lebih-lebih Jawa Timur.

Kita belum tentu bisa seperti itu, kenapa mereka bisa? Sebab, (semisal) Mbah Kiai Abdul Mannan Tremas berpuasa selama 3 tahun yang dihadiahkan untuk diri sendiri, keluarga dan para santrinya agar ilmunya bermanfaat. Kiai Zakaria Surojoyo Sindanglaut berpuasa selama 3 tahun untuk diri sendiri, 3 tahun untuk keluarganya, dan 3 tahun lagi untuk para santrinya. Sehingga wajar jika ilmu para santrinya menjadi bermanfaat. Itu diantara ijtihadnya (usaha kesungguhan/perjuangan) para ulama.

Adanya haul bukan muta’ashibin/bukan untuk menimbulkan kefanatikan yang menimbulkan pecah-belah. Melainkan untuk ibrah, mengambil pelajaran kenapa Mbah Kiai Dimyathi (misalnya) ilmunya bermanfaat, kenapa Kiai Abdul Mannan ilmunya bermanfaat, Kiai Mahfudz at-Turmusi ilmunya bermanfaat, dan melahirkan mutiara-mutiara yang tiada ternilai harganya. Apa sebabnya. Inilah yang perlu kita pelajari. Sehingga pulang dari haul bisa memetik oleh-olehnya, bisa dijadikan obat.

Dan beliau-beliau tidak terlepas dari punya andil besar untuk memperkuat akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Jangan anggap enteng tugasnya para kiai. Perjuangan para auliya itu bukan hanya di jaman Tremas, Lirboyo, Ploso, Bendokerep Cirebon, Buntet atau Babakan Ciwaringin, melainkan keberkahan mereka sejak dari para auliya jaman Wali Songo.

Dan jika saya bercerita, terutama untuk kalangan muda, jangan hanya bisa mantuk-mantuk saja tapi tulis dan catatlah agar tidak kepaten obor. Kita sering membuka buku sejarah, Islam masuk ke Indonesia dari abad ke 1 H., pendapat lain abad ke 2 H. Saat itu merupakan jaman katsratul fitnah, banyak terjadi fitnah yang luar biasa seperti kejadian antara Bani Umayyah dan Bani Abbas. Kekuasaan Bani Umayyah tak tanggung-tanggung hingga Spanyol. Kekuatan yang luar biasa 350 tahun (kemudian) tumbang. Sebab banyak berdiri kerajaan-kerajaan (Islam) seperti di Jawa (Nusantara) ini, Banten tumbang, Palembang tumbang, Aceh tumbang, Demak dan Cirebon pun tumbang. Padahal masing-masing kerajaan membawa bendera Islam dan perjuangan-perjuangan para ulama-ulama luar biasa. Sebabnya apa?

Sesudah (Bani Umayyah) menguasai Spanyol, banyak ulamanya yang didzalimi dan ditahan. Bahkan seperti Sayyidi Syaikh Abu Bakar al-Undulusi dan Abu Madyan al-Maghrabi sampai melarikan diri dari Spanyol hingga Tonjah atau Fes (Maroko) untuk menyelamatkan diri. Dari Tonjah nyala lampunya Spanyol kelihatan. Akhirnya kerajaan Islam di Spanyol pun tumbang.

Umat Islam jaman dulu berhasil menguasai Turki, namun beberapa tahun kemudian kerajaannya pun tumbang. Ulama-ulama tidak pernah putus asa tetap berjuang. Sampai dengan berdirinya kerajaan Malaka ketika diincar dan diserang oleh Portugis tahun 1511 M. Hingga Sultan Abdul Fattah mengirimkan pasukannya yang dipimpin Putra Mahkota Adipati Yunus. Ibunya Adipati Yunus adalah Dewi Asyiqah, putri dari Raden Rahmatullah Sunan Ampel.

Namun mengalami kegagalan karena menghadapi gelombang (laut) yang luar biasa. Sehingga menyebabkan banyak pasukan Demak mati syahid dan kapal-kapalnya sementara berlabuh di Palembang. Di Palembang inilah ada adik dan tempat kelahirannya Raden Fattah dahulu. Yang mana ibu Raden Fattah pernah dihadiahi sebidang tanah di sana oleh Aryo Damar saat sudah masuk Islam. Yang kemudian melahirkan keturunan bernama Raden Husain Pecattondo Kerung, yang semasa kecilnya sudah diikuti oleh Girindra Wardana, seorang yang pernah menaklukkan Brawijaya ke-V  sehingga menyebabkan sang raja melarikan diri ke Gunung Lawu.

Perjuangan tidak pernah berhenti meskipun Malaka mengalami kekalahan jatuh ke tangan Portugis. Alhamdulillah, saat menyerang ke Maluku bisa dibendung oleh Sultan Khaerun, Sultan Zainal Abidin dan Maulana Babullah Ternate (kakak Sunan Gunung Jati) yang kuburannya berada di puncak gunung mengungguli tingginya makam Sunan Muria. Inilah perjuangan para santri terdahulu yang mengikuti para ulama.

Setelah mengalami kegagalan, (ada oknum yang) ngitik-ngitiki (membisiki/adu-domba) Girindra Wardana dengan Raden Fattah sehingga Majapahit yang diduduki Girindra Wardana diserang oleh Raden Fattah. Girindra Wardana pun mengangkat Raden Husain Pecattondo Kerung sebagai senopati, untuk menghadapi kakaknya sendiri (tunggal ibu beda ayah) yakni Sultan Abdul Fattah. Terpaksa mengalami kegagalan dan kemenangan di pihak Raden Fattah. Ini contoh untuk kita semua, untuk diambil pelajaran bagaimana akibatnya jika saudara dibenturkan dengan saudaranya sendiri.

Perang kedua terjadi pada jaman Patih Udara yang mengadakan perjanjian dengan Portugis untuk menyerang Demak. Peperangan ini pun mengalami kegagalan, kemenangan di pihak kerajaan Demak. Hingga tiang-tiang penyangga istana Patih Udara pun dibawa untuk dijadikan tiang Masjid Demak bagian depan.

Kemenangan demi kemenangan dialami, tapi Portugis tidak putus asa untuk mengadu-dombanya dengan Pajajaran. Dikirimlah Maulana Syarif Hidayatullah pada jaman Sultan Trenggono, karena Raden Fattah sudah wafat tahun 1518 M. Sedangkan Sunan Kudus ambil bagian memimpin bagian laut dengan dibantu para tentara Cirebon dan Banten. Padahal waktu itu Banten belum Islam, tapi rasa nasionalismenya luar biasa. Pihak Maulana Syarif Hidayatullah pun mengalami kemengangan, hingga Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang sekarang menjadi Jakarta.

Masa-masa tenang dan menang pun dirasakan, tiba-tiba Sultan Trenggono dibunuh oleh bocah berusia 13 tahun. Seperti dulu dibunuhnya Sayyidina Utsman oleh Abu Lu’lu’, yang di Iran kuburan Abu Lu’lu kuburannya diperbagus. Akhirnya yang terjadi adalah antara anak dengan anak pecah-belah memperebutkan warisan; yang ini ingin jadi ratu dan yang itu ingin menguasai, terjadilah perang saudara. Melihat itu Maulana Syarif Hidayatullah pun mengambil sikap dengan memisahkan diri dari Demak dan membentengi Pantura agar tidak dimasuki Portugis.

Untungnya pada jaman itu masih ada ulama yang bisa mendamaikan seperti Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri), Maulana Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) dan Raden Abdurrahman Said (Sunan Kalijaga). Para beliaulah yang saat itu bisa melerai dari pecah-belah ummat dan bangsa. Ini contoh, tugas para santri menjadi perekat. Akhirnya persatuan dan kesatuan tetap terjaga, dan terpilihlah Jaka Tingkir menjadi raja yang pindah ke Pajang.

Masa-masa tenang dan menang pun dirasakan, tiba-tiba muncul Belanda. Dengan VOC-nya menjajah secara halus melalui perdagangan, bukan tentaranya dulu yang masuk. Tanah demi tanah dikuasai dan dibeli (saat itu mereka dalam perlindungan kerajaan). Setelah tanahnya luas ditanamlah rempah-rempah, kemudian mereka diam-diam membuat benteng.

Setelah benteng-benteng Belanda berdiri, Sultan Agung akhirnya tahu dan mengendus adanya bahaya. Belanda kemudian diperingatkan berkali-kali tapi tetap tak berubah dengan pendiriannya. Dikirimlah pasukan Sultan Agung sebanyak 80.000 tapi mengalami kegagalan karena di sekitar benteng itu penuh dengan rawa-rawa penuh bahaya. Mengalami kegagalan hingga dua kali, termasuk diantara yang menjadi pasukan itu adalah pembesar Kota Pekalongan yakni Sayyid Muhammad Abdussalam yang terkenal dengan sebutan Bahurekso dan Kiai Hasan Ki Ageng Cempalo. Banyak lainnya yang turut berjuang dari para kiai dan santri. Berjuang bahu-membahu membela umara’nya, yakni Sultan Agung.

Meski gagal tetap tidak berhenti di tengah jalan dengan terus mengobarkan semangat juang, meningkatkan handarbeni (rasa memiliki) pada bangsa dna tanah air ini. Sehingga muncullah para pejuang tangguh seperti Kiai Hasan Maulani, seorang ulama dan wali Allah dari Slado. Kiai Hasan Maulani itu pernah dibuang ke Manado, Kiai Ahmad Rifai juga dibuang ke sana. Tokoh pejuang lainnya adalah Kiai Hasan Lengkong, Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo, Sentot Prawiroderjo serta para tokoh ulama lainnya yang tidak pernah lepas ikut andil berjuang untuk bangsa dan ummat ini.

Inilah perjalanan para santri hingga bisa membuat pesantren-pesantren. Karena pesantren merupakan pertahanan yang luar biasa dan kuat. Sehingga muncul oknum-oknum yang ingin mengobok-obok pesantren dengan mengatakan pesantren sebagai sarang teroris. (Padahal) Selama 22 tahun saya belajar di pondok pesantren belum pernah guruku mengajari jadi teroris, belum pernah mengajariku untuk melawan negara. Justeru setiap tanggal 17 Agustus para kiai (merayakannya) dengan cara melabur pagar pesantren dan merapikan dan membersihkan rumput-rumput yang tumbuh liar. Seperti inilah yang ditugaskan para kiai kepada para santrinya (untuk merayakannya).

Maka dari itulah bagaimana caranya menggembosi dunia pesantren karena mereka (para oknum) tahu bahwa pesantrenlah yang menjadi benteng terakhir bangsa ini. Agar pesantren tak dipercaya lagi.

(Dari pesantren lah) bangkit para pejuang yang tak pernha mengenal putus asa, seperti Kiai Muqoyyim Sindanglaut, al-Habib Thoha bin Hasan yang memiliki pasukan Cipeting (pasukan malam) sebanyak 5.000, Kiai Abdullah Babakan Ciwaringin yang pertamakali para santri melakukan perlawanannya terhadap Belanda hingga Belanda memboikot keuangannya yang datang dari Aceh untuk membendung perjuangan para snatri. Inilah Hari Santri, tidak mudah perjuangannya dalam menanamkan cintanya pada bangsa, lebih-lebih terhadap agama dan akidahnya.

Di lain itu muncullah tokoh-tokoh luar biasa, maaf jangan dilihat latar belakang politiknya, seperti Pak Karno, Pak Harto, Agus Salim, Umar Said Cokroaminoto dan Kiai Ahmad Dahlan. Tokoh-tokoh pejuang bangsa yang luar biasa, ada yang melalui jalur pesantren, pendidikan, perdagangan, dlsb. Bagaimana cara menghidupkan al-iqtishadiyah (dunia pertanian), ilmu pengetahuan dan ekonomi, pesantren bukan sekadar melahirkan ahli baca kitab tekstual tapi tahu di dalamnya kitab.

Pesantren harus bisa menjawab tantangan jaman, selain hafidzul Qur’an, muhadditsin dan fuqaha dia juga ahli pertanian, ahli teknologi, ahli elektronik, ahli IT, dokter spesialis kandungan, dokter spesialias pankreas, dlsb. Bisa menjawab dan menjabarkan keuniversalan al-Quran dan apa yang ada di dalam al-Quran.

Santri tidak cukup hanya bertasbih dan tadarrus saja, tapi mampu menjadi tokoh pendidikan, tokoh pertanian, tokoh ekonomi, sebagaimana dirintis oleh Wali Songo dimana mereka mampu hidup berdampingan dengan yang berlainan agama. Jaman Pajajaran, jaman Majapahit, malah bisa membangun income hingga mendapatkan kepercayaan yang luar biasa.

Bukan membangun khilafiyah. Negara lain sudah maju dalam dunia elektro, IT, kedokteran, pendidikan, pertanian, perdagangan, sampai pesawat tempur dan persenjataan. Kita ketinggalan demi ketinggalan, yang ramai hanya bertengkar dan rebut terus. Pertanyaannya, sampai kapan hai santri Tremas, santri Lirboyo, santri Ploso, dan santri-santri yang lain? Bukan menumbuhkan ashabiyah-ta’ashub (fanatisme). Akhirnya kesempatan yang demikian (saat datang fanatik), masuklah oknum-oknum manusia untuk membenturkan sesama kita. Untungnya para santri dibegitukan tidak mempan. Alhamdulillah. Ini kritikan, bukan pujian.

Kapan kita akan bisa menjawab ini? Dan pertanyaan yang lebih jauh, sampai kapan kita bisa mengisi kemerdekaan ini? Para kiai dulu sudah banyak ikut andil dalam perjuangan tahun 45, 47 dan saat Belanda masuk lagi melalui sekutu. Para kiai masih bahu-membahu bersama tentara saling cancut taliwondo, seperti Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, dll., ternyata kita ditikam dari belakang pada peristiwa tahun 48. Melek! Sadar! Alhamdulillah lolos, sampai tahun 65.

Tanya pada diri kita sendiri, kita sudah ikut mengisi dan andil apa dalam mengisi kemerdekaan ini? Kita sudah ikut andil apa pada peninggalannya para kiai untuk meneruskan perjuangannya? Tarik lagi ke atas, sudah ikut andil apa pada peninggalannya para Wali Songo? Tarik lebih jauh lagi, sudah ikut andil apa ngisi peninggalannya Kanjeng Nabi Saw.? Jangan sampai kita jadi santri yang membuat malu kedua orangtua, para guru, para sesepuhnya dan Nabi Saw. di hadapan Allah Swt. Mestinya dipersiapkan. Disamping agamanya kuat, akidahnya kuat, tapi bisa melahirkan dan menjawab tantangan ummat dan bangsa.

Kitab tetap berjalan, ekonominya lancar. Nasibnya dari sisi ekonomi selalu mundur dan mundur, mau mauju bagaimana? Jika ada pengajian, mauludan, tetap saja model proposal tidak ada berhentinya. Sudah jadi budaya. Sampai kapan sebetulnya proposal-proposal (yang demikian)? Ini kritikan. Mestinya kita harus berubah. Partisipasi kita tingkatkan untuk membangun ekonomi, membangun dunia pertanian. Apa dikira dalam al-Quran tidak ada?

Sunan Kudus itu luar biasa, seorang ekonom (disamping ulama besar). Buahnya sampai sekarang Kudus luar biasa ekonominya. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kudus. Sunan Derajat, ahli pertanian dan ahli ekonom disamping ulama besar. Kanjeng Sunan Bonang, gurunya para raja, para ulama, para wali, para senopati dan para pejabat kerajaan pada waktu itu. Diikuti dan ditaati karena beliau punya pendirian, orang hebat, tidak mudah ditarik kesana-kemari. (Mampu) menjadi bapak ummat dan bapak bangsa. Sunan Gunung Jati adalah seorang ahli strategi disamping ulama besar.

Semoga dengan adanya Haul Mbah Dimyathi dan Masyayikh Ponpes Tremas, bisa mencetak ummat, santri dan para murid yang bisa menjawab tantangan ummat dan bangsa serta tidak memalukan para orangtua, guru dan pendahulu kita. Amin.

Ditranskrip dan dialihbahasakan dari ceramah Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya pada acara Haul Masyayikh Ponpes Tremas di Pekalongan 2016.

Selasa, 15 November 2016

Mata Alloh

GUS DUR & MATA ALLAH

TANPA didampingi siapa pun, Gus Dur dan aku bertemu di warung nasi depan kampusku. Pakaian batik dan sarung membungkus tubuhnya, peci yang miring serta kacamata tebalnya melengkapi kediriannya. Dialog yang bagiku aneh pun terjadi. Aneh karena perbincangan kami kesana kemari, tak jelas arahnya.

Gus Dur :
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"

Mughni :
"Iya, Gus. Tapi.."

Gus Dur :
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"

Mughni :
"Hehehehe.."

Gus Dur :
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."

Mughni :
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."

Gus Dur :
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."

Mughni :
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."

Gus Dur :
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."

Mughni :
"Laksanakan."

Gus Dur :
"Kamu suka menulis?"

Mughni :
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."

Gus Dur :
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."

Mughni :
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"

Gus Dur :
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."

Mughni :
"Hmmmmm.."

Gus Dur :
"Kamu pernah pesantren?"

Mughni :
"Pernah, Gus."

Gus Dur :
"Dimana?"

Mughni :
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."

Gus Dur :
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."

Mughni :
"Iya."

Gus Dur :
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."

Mughni :
"Ketika jadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."

Gus Dur :
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok,  melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."

Mughni :
"Terima kasih, Gus."

Gus Dur :
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."

Mughni :
"Iya, Gus."

Gus Dur :
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"

Mughni :
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."

Gus Dur :
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'mata' Allah."

Mughni :
"Waduh. Bagaimana contohnya?"

Gus Dur :
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."

Mughni :
"Duh.."

Gus Dur :
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."

Mughni :
"Ya Allah.."

(Haul Gus Dur yang ke-6)

.
.
Dicuplik dari tausiyah Guru Niam Muiz

Senin, 14 November 2016

HADIS QUDSI PEMBERSIH JIWA

HADIS QUDSI PEMBERSIH JIWA
Abu Dzar Al-Ghifari r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT Berfirman:

يَا عِبَادِيْ إِنِيْ حَرَّمَتْ الظُلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَاتَظَالَمُوْا
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim atas diri-Ku dan Aku jadikan kezhaliman di antara kalian sebagai sesuati yang diharamkan, maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.”

يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ ضَالٌ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِيْ أَهْدِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua dalam keadaan tersesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan beri kalian hidayah.”

يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِيْ أُطْعِمْكُمْ
“ Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar, kecuali orang yang telah aku beri mareka makan, maka mintalah makan kepada-Ku, Niscaya Aku akan beri kalian makan.”

يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِيْ أُكْسِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang, kecuali orang yang telah aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya aku akan beri kamu pakaian.”

يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُنُوْبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan pada siang dan malam hari, sedangkan saya lah yang mengampuni semua dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku, Saya akan ampuni kalian.”

يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّيْ فَتَضَرُّوْنِيْ وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu melakukan kemudharatan yang bisa memberikan kemudharat kepada-Ku, dan sekali-kali kalian tidak akan mampu melakukan manfaat yang bisa memberikan manfaat kepada-Ku.”

يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ و آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كاَنُوْا عَلَى اْتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِيْ مُلْكِيْ شَيْئًا
“Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya memiliki (hati sebagaimana) hati orang yang paling taqwa, maka hal itu tidak akan menambah (keagungan) sedikitpun di dalam kerajaan-Ku.”

يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَر قَلْب رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مُكْلِيْ شَيْئَا
“Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya memiliki (hati sebagaimana) hati orang yang paling durhaka, maka hal itu tidak akan mengurangi (kemuliaan) sedikitpun di dalam kerajaan-Ku.”

يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ قَامُوْا فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسْأَلُوْنِيْ فَأَعْطَيْتُهُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ المَخِيْطُ إذَا أُدْخلَ البَحْرَ
“Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya berada di suatu lapangan, kemudian mereka meminta kepada-Ku, lalu Aku memberi kepada setiap orang sesuai dengan permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi (sedikit pun) kekayaan yang ada pada-Ku, kecuali seperti halnya air yang menempel pada sebuah jarum ketika jarum tersebut dimasukkan ke dalam lautan.”

يَا عِبَادِيْ إنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمِدْ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya amal kalian itulah yang akan Aku hisab, kemudian Aku memberi balasannya secara sempurna. Maka barang siapa menemukan balasan yang baik, hendaknya dia memuji Allah; dan barang siapa menemukan balasan yang buruk, maka janganlah sekali-kali mencela, kecuali terhadap dirinya sendiri.”

---Dikutip dari Kitab Nasha’ihul ‘Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani

Sabtu, 12 November 2016

maqamatil khauf warraja’

MENYELAMI KEHENDAK (AL-IRADAH) MANUSIA

Al-Iradah (kehendak) itu harus dikembalikan dahulu yang pertama kepada niat. Niat dikembalikan kepada ilmu. Punya niat baik, punya kehendak baik, tapi tidak mempunyai ilmu juga sulit. Mempunyai ilmu, mempunyai kehendak dan mempunyai niat yang baik tapi tidak didasari khaufun billah (takut kepada Allah), juga susah. Khauf (takut) kepada Allah Swt. bukan karena nerakaNya. Cinta kepada Allah bukan karena surgaNya. Tapi cinta kepada yang menciptakan surga dan neraka lebih besar daripada cinta kepada surgaNya atau takutnya pada neraka. Itu diantaranya khauf.

Dan khauf ini harus selalu kita gandeng. Sebab khauf tanpa ilmu, maksudnya khauf jarang juga orang yang mengetahuinya. Tapi kalau khauf mempunyai ilmu, berbeda. Karena kaitannya khauf juga tidak terlepas dari:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah melihatNya, jika tak mampu demikian maka pasti Dia melihatmu.”

Merasa bersembah sujud, menyembah sujud kepada Allah Swt. Kalau toh tidak mampu karena ini kelas berat merasa setiap harinya dilihat oleh Allah Swt. Dari mulai kehendak kita, kemauan kita, dlsb. tidak terlepas dari pandangan Allah Swt. Bilamana khauf ini tumbuh maka akan memperbaiki kehidupan manusia itu sendiri karena takutnya kepada Allah Swt. Tapi khauf harus digandeng selalu dengan raja’. Selalu yang mengharapkan tidak pernah lepas, tidak satu pun yang diharapkan dan dikehendaki terkecuali:

إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ

“Hanyalah kepadaMu ya Allah kami mengharap.”

Kalau setiap insan mukmin bisa mengamalkan إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ (raja’ selalu kepada Allah Swt.), saya kira tidak ada mukmin yang faqir. Karena apa? Dekat dengan yang menciptakan surga. Cinta kami kepada Allah Swt. lebih besar daripada surgaNya. Begitupula cinta kami kepada Baginda Nabi Saw. Lebih-lebih cinta kita kepada Baginda Nabi Saw. bagian dari syukur kepada Allah Swt.

Karena apa? Kita menjadi umat Islam, orang yang beriman, bisa membedakan mana yang haq dan batil, mana kalamullah, dan mana yang halal-mana yang haram. kita bisa berbakti pada orangtua, taat pada segala perintah Allah, dlsb., tanpa mengenal Baginda Nabi Saw. mana mungkin kita kenal itu semuanya!? Maka dengan dilahirkannya Baginda Nabi Saw., sejauh mana kita mengenal Baginda Nabi Saw. Karena tanpa kelahiran Nabi Saw., mustahil ada bi’tsah ataupun risalah. Dan tidak mungkin Islam dan al-Quran akan diturunkan karena tidak ada yang di-maulud-kan. Karena ada yang di-maulud-kan itulah adanya bi’tsaturrasul wannubuwwah, nuzul al-Quran dan Islam diturunkan oleh Allah Swt. kepada Baginda Nabi Besar Saw.

Sejauh mana kita mengucapkan terimakasih kita kepada Baginda Nabi Saw.? Seandainya kita kaya, gunung segala gunung dijadikan emas, untuk memberikan hadiah kepada Baginda Nabi Saw. atau membayar budi, jangan dikira cukup. Belum! Sebab,

تَمَامُ النِّعْمَةِ مَوْتٌ عَلَى الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ

“Kenikmatan paripurna adalah mati membawa iman dan islam.” Mana mungkin mendapatkan tamamunni’mah mautun ‘alal iman wal islam sedangkan sama Baginda Nabi Saw. tidak mencintai.

Satu hadits diterangkan:

أَوَّلُ مَا يَسْأَلُنِيْ فِيْ قَبْرِيْ عَنِّيْ

Pertamakali kelak di kubur yang ditanyakan sebelum ditanya “man rabbuka”, yang ditanya kenal tidak kamu dengan Muhammad Saw. Kalau kenal pasti bisa menjawab man rabbuka waman nabiyyuka, dst. Tapi yang tidak kenal mana mungkin akan bisa menjawab.

Para auliya (wali Allah) tidak takut karena kehilangan istrinya, dunianya atau anak-anaknya, dlsb. Tidak. Para beliau itu cuma satu yang ditakuti. Apa? Kalau keluar dari dunia fana ini mautun ‘ala su-il khatimah (dalam keadaan mati suul khatimah). Itu yang ditakuti oleh semua auliyaillah. Bukan karena husnul khatimah lalu dapat surga, tidak.  Ingin mautun ‘ala husnil khatimah karena surga, tidak. Mautun ‘ala husnil khatimah karena kecintaannya kepada Allah Swt., (dan) tidak sampai jauh dirinya dengan Allah Swt. Sebab kalau sampai suul khatimah akan jauh dengan Allah Swt. dan RasulNya.

Para beliau mujahadahnya tiap malam luar biasa. Bukan mujahadah baca hizib, baca ini dan itu supaya ditembak tidak mempan, dibacok tidak mempan. Atau baca wiridan supaya mahabbah atau dapat rejeki yang banyak. Itu nomor tiga, empat, atau lima. Tapi yang diperhatikan oleh para auliya semuanya takut kalau dirinya keluar dari dunia ini tidak sempat membawa nikmat iman dan Islam. Karena itu dicap nantinya sebagai orang yang tidak mengerti syukur, berterimakasih kepada Baginda Nabi Saw.

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ

“Siapa tidak berterimakasih kepada manusia, sama halanya dia tidak berterimakasih kepada Allah Swt.”

Disinilah maqamatil khauf warraja’ (kedudukan takut dan harap) bertalian terus. Disinilah peran al-iradah, mengharap atau menghendaki, “Ya Allah ya Rabb, janganlah Engkau tinggalkan sekejap mata pun dari pandanganMu. Jangan Engkau tinggalkan pandanganku dari pandanganMu ya Allah. Dalam perilakuku, langkah kakiku, jangan sampai aku ini tertinggal dari taufiq dan hidayahMu.” Inilah orang yang (memiliki) khauf, iradah dan raja’ kepada Allah Swt. Selalu mendampingi, mengawal kehidupannya.

Kalau sudah maqamaturraja’ tumbuh maqamatusshiddiq, benar. Benar (shiddiq) fil qulub, wasshiddiq fillisan, wasshiddiq finnadzar, wasshiddiq fissama’. Kalau orang sudah mempunyai sifat shiddiq bukan benar niatnya saja, mata dan lisannya pun akan ikut shiddiq. Akan benar, dia takut mengeluarkan se-ayat dua ayat, dia takut mengeluarkan fatwa per-fatwa. Sebab sebelum mereka yang mendengarkan dituntut di hadapan Allah, orang itu dahulu yang menyampaikan fatwa. Iya kalau benar, kalau tidak? Mas-ul fi yaumil qiyamah (akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat). Jangan dikira mudah. Itulah para ulama shalihin, luar biasa.

Kalau sudah shiddiq matanya, matanya ini diajak benar, mau benar. Kalau diajak salah, tidak mau (mengikuti) salah. Karena apa? Sudah kebiasaan benar. Telinga pun,

مِنْ نُوْرِ الْإِيْمَانِ يَتَلَأْلَأْ

“Bercahaya disinari iman.” Untuk mendengarkan yang jelek, mendengarkan yang tidak baik, telinga ini tidak akan mau. Karena apa? Shiddiqnya sudah sampai ke telinga dan matanya, apalagi tutur katanya.

Kalau sudah shiddiq, tahu persis bagaimana. Walaupun toh ini benar tapi akibatnya membuka aib saudara mukmin kita sendiri, cara menyampaikannya pun berbeda. Karena, walaupun benar adakalanya membuka aibnya orang.

Contoh –maaf ibu-ibu dan bapak-bapak tidak usah ditertawakan karena saya tidak suka ditertawakan-, ada bapak atau oknum lah umpanya. Kalau di rumah sendiri itu biasanya pakai sarung yang seenaknya saja sambil nonton tivi. Tidak tahu auratnya kelihatan. Diantara teman-temannya yang duduk sedang nonton tivi tahu kalau orang ini auratnya terbuka karena sarungnya terbuka. Kalau orang yang menyampaikan benar ini tidak tepat, akan membuka aibnya. “Hei mas, sarungmu terbuka, auratmu kelihatan.” Orang yang tidak mendengar akhirnya jadi melihat dan mendengar semuanya. Membenarkan, menyampaikan pendapat, tapi membuka aibnya orang.

Tapi kalau Rasulullah Saw., menyampaikan benar justeru menghormati orang yang dibenarkan (diluruskan). Itulah hebatnya menunjukkan rahmatan lil ‘alamin. Kalau orang yang mengikuti jejak sunnah Baginda Nabi Saw., adabnya begitu tahu langsung (bilang), “Mas mas, bangun sebentar, saya ada urusan (perlu)”. Begitu ia bangun, tertutup kan auratnya. Begitu tertutup auratnya, dia ajak keluar, “Ada apa yah?” dijawab, “Sorry, tadi kelihatan auratnya.” “Ya, ya, betul. Terimakasih, terimakasih,” ucapnya sangat berterimakasih.

Ada juga orang nahi munkar –umpamanya- ada seseorang yang merokok kretek, ada cengkehnya. Kebetulan dia pakai sarung. Begitu dihisap, Seppp”, (ada yang) jatuh ke sarungnya. Kira-kiranya kan cepat terbakarnya. Betul ndak? Coba kalau kita menyampaikannya, “Mohon maaf Pak, itu ada latu-nya.” Malah akan terbakar duluan, habis. Tapi begitu tahu ada api di sarungnya, langsung saja “Maaf!” sambil ditepuk. Padahal ditepuk, sakit, tapi (karena) sarungnya selamat yang ditepuk malah berterimakasih. Itu hebatnya rahmatan lil ‘alamin. Menirunya susah.

Tapi adakalanya mau menyampaikan yang benar, juga salah padahal benar. (Misal) Minum kopi, tak tahunya tempat kopinya (pisin) masih basah ada air kopinya. Begitu akan diangkat, (ditepuk) “Hei maaf maaf,” malah tumpah jadinya. Ada tempatnya yang harus keras dan ada tempatnya yang harus lunak. Orang-orang yang demikian setelah mewarnai dengan ash-shiddiq.

Yang keempat haya’, malu kepada Allah Swt. Kami mendapat fadhal dari Allah Swt. dijadikan semulia-mulianya umat. Umatnya siapa? Afdhalul makhluqat (paling mulianya makhluk Allah Swt.), sayyidul anbiya’ wal mursalin. Mesti bertanya pada dirinya, “Ya Allah ya Rabb, apakah kami ini golongan orang kelak yang akan memalukan Baginda Nabi Saw. di hadapanMu ya Allah? Jangan sampai aku menjadi umat yang akan memalukan Baginda Nabi Saw., memalukan guru-guruku, memalukan kedua orangtuaku,” dlsb. Itu al-haya’.

Sampai dengan perbuatan, muamalah yaumiah (perilaku keseharian), kalau haya’ kepada Rasulullah Saw., “Malu ah masa pakai baju tangan kiri dulu, malu dong pada Rasulullah.” Disamping juga tangan kanan itu sunnah. Itu diantaranya. Sampai mau berbicara yang kurang baik atau seronok, dia akan berpikir, “Malu ah, Rasulullah tidak berbicara yang demikian.”

Kalau haya’ (malu )nya sudah jadi, al-mahabbah (cinta)nya  luar biasa. Kalau sudah mahabbah betul-betul kepada Allah Swt., ridha yang ada. Tapi ini kelas berat Pak, diberi sakit, “Biarin! Yang memberi sakit yang saya cintai koq.” (Tetap) Ikhtiar, karena menetapi perintah, bukan karena apa-apa. Diberi penyakit, karena diniati ibadah, diterimanya dengan senang. Karena apa? Karena yang memberi penyakit adalah yang paling dicintai. Berat sekali, kelihatannya sepele.

Kalau tidak cepat-cepat kita belajar dalam ilmunya hati, apa yang ada di dalam batin al-Quran, di dalam dunia tasawuf, kita tidak sulit untuk mempelajari yang demikian. Dan (demi) untuk bekal selanjutnya dan selanjutnya.

(*Ibj. Ditranskrip dari ceramah Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Pengajian Jum’at Kliwon 11 Nov. 2016: https://youtu.be/HPF9GDUV508).

Selasa, 08 November 2016

Doa ayah...

"Kelak engkau akan tumbuh dewasa pesan ayahmu dengarkan kata hati mu nak jangan selalu engkau kau dengar isi kepala mu karna isi kepala hanya ambisi dan nafsu belaka...

"Ketika engkau memandang dengan kacamata kebencian,kecintaan,kebijakan,kesalahan kebenaran tentu akan berbeda tampak dan wujudnya yang di pandang Ketika engkau datang dengan menggunakan salah satu kacamata tersebut,ketika itu anda di tipu olehnya Maka,lepaskanlah kacamata tersebut Maka SEGI PANDANG yang ada pada dirimu yang akan berbicara Selagi SEGI PANDANG mu masih berkacamata,selama itu engkau akan terhalang dari nyatanya sang SEGI PANDANG..

"Dengarkanlah Suara Hati yang terdalam yaitu “Rasa & Kesadaran” yang di dalamnya tiada keragu2an yang ada hanya liputan ketenangan kedamaian,kelapangan,ketentraman maka disitulah Suara Hati yang Haq’ maka dengarkan lah apa yang terbetik di dalamnya Namun jika suara itu terliputi oleh sangka2,keragu2an,kebimbangan,kegundahan,ketergesa’an,Ambisi dll….maka disitu adalah Suara yang telah bercampur dengan ke-DIRI-an/ke-EGO-an/Hawa Nafsu maka tinggalkanlah dan berserah dirilah kepada Allah Swt semoga Allah membebaskan diri dari belenggu ke-DIRI-an/ke-EGO-an/Hawa Nafsu tsb....

#Doa ayah mu slalu menyertaimu.....

Hati

BERSIHKAN HATIMU DUNIA AKAN DITAKLUKKAN UNTUKMU
Suatu ketika, seorang pemuda sufi mendatangi Abu Said Abul Khair untuk mendalami ilmu tasawufnya, sejak lama ia ingin berguru langsung kepada beliau.

Beliau adalah seorang guru Sufi yang terkenal dizamannya karena "karamah"nya dan beliau aktif mengajar tasawuf di pengajian-pengajian.

Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir.
Ketika sufi muda itu tiba di rumahnya, Abul Khair sedang memimpin Majelis pengajian, di tengah-tengah para muridnya.

Sewaktu Abul Khair membaca surah Al-Fatihah dan tiba pada ayat: Ghairil maghdubi 'Alaihim, Wa Ladh Dhallin.
Sufi muda itu berpikir,
Bagaimana mungkin ia seorang Guru sufi terkenal?
Suara bacaan Al Fatehahnya tidak bagus begitu.
Bagaimana mungkin aku bisa berguru kepadanya.
Selain Bacaan Quran-nya, penampilannya pun kurang menarik.

Sufi muda itupun mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair. Ia merasa salah memilih calon Guru baginya, dan memutuskan pulang lalu mencari Guru lain yang lantunan suara bacaannya lebih bagus darinya.

Tetapi begitu sufi muda itu keluar, ia langsung dihadang oleh seekor Singa Padang Pasir yang buas.

Ia kemudian mundur menghindari Singa itu, akan tetapi di belakangnya ada lagi seekor Singa Padang Pasir lain yang menghalanginya.

Lelaki muda itu menjerit keras meminta tolong karena ketakutan.
Mendengar teriakannya, Abul Khair segera turun keluar meninggalkan majelisnya.

Ia lalu menatap kedua ekor Singa yang kelaparan itu kemudian menegur mereka,
"Wahai Singa, Bukankah sudah kubilang padamu, jangan pernah kalian menganggu para tamuku!"*
"Seketika kedua singa itu bersimpuh di hadapan Abul Khair".

Sang sufi lalu mengelus telinga keduanya dan menyuruhnya pergi,
Lelaki muda itu keheranan,
"Bagaimana mungkin Anda dapat menaklukkan Singa-Singa yang begitu liar?"

Abul Khair menjawab,
"Anak muda, selama ini aku sibuk memperhatikan urusan hatiku,
Bertahun-tahun aku berusaha menata hatiku, hingga aku tidak sempat berprasangka buruk kepada orang lain.*Untuk kesibukanku menaklukkan hati ini, Allah SWT menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku.
Semua binatang buas di sini termasuk Singa-Singa Padang pasir yang buas tadi semua tunduk kepadaku.
Sekarang apakah kamu menyadari kekuranganmu wahai anak muda ?
"Tidak , wahai Guru” jawab anak muda itu.

"Selama ini kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta, dan ketakutan hanya karena Singa-Singa itu".

_______________
Hikmah apa yang kamu dapat dari kisah ini?

Siapa Allah SWT??

."Selalu bersyukur dengan segala kelemahan dan kekuranganmu,karena tanpanya kita tak bisa menjadi lebih baik....

Siapa Allah SWT??
jawabannya adalah : Tuhanmu

Lantas tanyakan kedalam dirimu,siapa Tuhanmu???

Andaikata tuhan adalah Yang Maha Mulia, lantas siapakah yang hina??

Andaikata tuhan adalah Yang Maha kuasa, lantas siapakah yang yang tiada daya dan upaya...??

Mungkinkah ada dua yang mulia dan ada dua yang maha kuasa sementara hanya satu Yang Maha Esa??

"Sadarilah bahwa ini semua hanyalah masalah memposisikan diri,maka bersyukurlah dengan segala kelemahan dan kekuranganmu,karena tanpanya kita tak bisa belajar menjadi lebih baik terimalah segala kekurangan dan kelemahanmu dan juga orang lain berusahalah untuk memperbaikinya,karena tuhan senang kepada hambanya yang mau berubah untuk menjadi lebih baik....

Dan yang terpenting adalah,jangan engkau menuhankan dirimu....

#Sebatas cotetan kata...

Jadilah seperti apa yang Allah mau

Sebatas renungan....

"Dalam menjalani hidup kita hanya berusaha berbuat sebaik mungkin tapi tuhan lebih tau mana yang terbaik untuk kita....

Jadilah seperti apa yang Allah mau....
Bukan menjadi seperti yang diri mau....

"Engkau tidak boleh memprotes setiap keadaan yang diberikan Allah kepadamu,tanda engkau belum mampu mensyukuri setiap karuniaNya..

"Apapun keadaan yang ditempatkanNya sesungguhnya Dia mengerti apa yang terbaik dan Dia memiliki rahasia serta rencanaNya sendiri padamu...

"Bilamana kenyataannya maqommu diletakkan dalam keadaan asbab,dimana ada beban tanggungan yang mesti engkau tanggung,maka jadilah asbab yang baik,tiada angkara murka mencari dunia,tiada rakus serakah mengejar dunia,dan mampu menghasanahkan duniawimu dari apa2 yang sudah dianugrahkan Allah kepadamu...

"Pencerahan itu adalah mengenal fungsi diri, dan menselaraskan diri dengan kehendak Allah Dimanapun dan bagaimanapun berada,jika tetap laras kepada Sang Jalan,maka tidak pernah mengalami kebuntuan jalan...

"Seperti apa kita ke depan nya,ikuti saja mau nya Allah harus siap jika DIA ingin menjadi kan kita sesuatu yang di kehendaki NYA Itu lah berserah diri....

#Nasehat diri...

Selasa, 01 November 2016

Nasehat-nasehat Al Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih (Malang).

Nasehat-nasehat Al Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih (Malang).

“Muslim sejati apabila di timpa sesuatu apapun maka ia tetap tenang dan ikhlas dan rela menerima segala keputusan-Nya”.

“Cobaan dan ujian apabila di terima dengan ikhlas dan husnudzon kepada Allah swt. maka akan mendekatkan seseorang tersebut kepada derajat kewalian”.

“Bukan di katakan berilmu apabila tidak di sertai ketaqwaan dan bukanlah di namakan berakal apabila tidak di hiasi adab serta budi pekerti”.

“Seseorang yang menaruh rasa cinta kepada Baginda Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Aalihi Wa Sallam tidak akan pernah merugi di dunia dan akhirat”.

“Seseorang yang sedang menuntut ilmu agama dengan penuh keikhlasan semata karena Allah swt. lalu ia di anugrahi dapat bermimpi Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Aalihi Wa Sallam maka pertanda bahwa ia akan di jadikan seorang yang ‘alim”.

“Jadilah kalian sebagai ahli nur, caranya isilah hati kalian dengan berdzikir, shalawat, istighfar, dan selalu adakan komunikasi dengan Allah swt.”.

“Seseorang yang banyak membaca Shalawat kepada Baginda Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Aalihi Wa Sallam akan cepat wushul (sampai) dengan Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Aalihi Wa Sallam”.

Salam Mahabbah💜💜💜

tak pantas singgah di surga...

"Jika cinta Sang Kekasih telah engkau temukan,maka yang terpandang adalah Cinta yang terucap adalah cinta,dan yang yergerak adalah cinta,cintaNya Sang maha Cinta menyapamu dengan penuh Cinta....

"Jika hatimu telah kau persiapkan menerima tuangan Tuhan,maka Dia akan melimpahimu dengan cinta tanpa batas....

"Mereka yang dilimpahi cintaNya,akan tersenyum dengan cinta,marah dengan cinta bahagia dengan cinta,dan menangis dengan cinta....

"Wadah hatinya akan dipenuhi dengan cintaNya hingga luber mengaliri wadah-wadah hati di sekitarnya Ia hidup tanpa kebencian dan itulah hakikat surga....

"Mereka yang memiliki kebencian kepada siapapun,tak pantas singgah di surga,hingga dicabut kebencian dari dadanya.....
(Qs. al-A'raf [7]: 43)

"Salam rahmatan lil allamin....🙏🙏🙏

Sebatas renungan

Sebatas renungan......

"Himpunlah sebanyak-banyaknya pengetahuan sadarilah keadaanmu,ikhlaslah menerima kenyataan,dan bersyukurlah kepada Allah...

"Tanpa pengetahuan kau tak mungkin menjadi manusia yang sadar tanpa kesadaran engkau tak mungkin mampu ikhlas menerima kenyataan....

"Dan tanpa keikhlasan mungkinkah engkau mau merawat,menjaga dan menggunakan apa yang sudah diberikan...??

"Yang namanya rejeki adalah suatu pertolongan yang datang padamu dari sisiNya ia datang melihat dari kepantasanmu,tingkatnya tergantung kebutuhanmu,dan waktunya tergantung dari kesungguhanmu.....

"Bagaimana dapat dikatakan pantas jika engkau masih meragukannya..???

"Bagaimana dapat dikatakan butuh jika engkau masih enggan mengakui kekuranganmu..???

"Dan bagaimana dapat dikatakan sungguh-sungguh jika engkau tak memahami dan melakukan apa yang engkau yakini..???

Pantaskah engkau mendapatkannya....?

"Maka lebih baik engkau melakukan hal yang terpuji tanpa berhitung,karena "kepantasan" bukanlah menurut fikiranmu.......

01_11_2016

#Nasehat diri...

PON terjebak'

Tanda Batin Weton Pon Sering Tertipu “Doa Menjadi Kaya” Namun Faktanya Rezeki Tak Naik dan Hidup Tak Berubah Weton Pon dikenal memiliki daya...