Rabu, 16 Mei 2012

Pertemuan Guru Besar Sejati


HASAN AL-BASHRI
Ketika ia ditanya: "Apakah Islam, dan siapakah ummat Muslim?" ia menjawab: "Islam ada di dalam buku, dan muslim ada di pusara."
APA YANG SESUNGGUHNYA DIKETAHUI MANUSIA
Manusia menganggap, secara khayal, bahwa mereka mengetahui Kebenaran dan pemahaman Ilahiyah. Kenyataannya, mereka tidak tahu apa-apa.
(Al-Jurjani)
SUFYAN ATS-TSAURI
Seorang pria dalam mimpinya berjumpa dengan Sufi yang dihormati karena perbuatan baiknya. "Aku diberi penghargaan karena menyingkirkan kulit buah di jalan, yang seseorang dapat terpeleset olehnya," ujar si Sufi.
Ketika hal ini dilaporkan kepada Sufyan ats-Tsauri, berkata; "Betapa beruntungnya ia tidak dihukum untuk setiap peristiwa dimana ia beramal dan merasa senang atas perbuatan itu."
(Al-Ghazali)
DOSA
Dosa menentang Allah adalah satu hal; tetapi dosa pada sesama manusia adalah lebih buruk.
(Sufyan ats-Tsauri)
MANUSIA HARUS DALAM KEADAAN BENAR
Uwais al-Qarni berkata pada beberapa pengunjung:
"Apakah engkau mencari Allah? Jika demikian, mengapa engkau datang kepadaku?"
Para pengunjung hanya berpikir bahwa mereka memang mencari Allah. Kehadiran mereka dan emanasi (pancaran) mereka terbuka.
"Jika engkau tidak demikian," lanjut Uwais, "kendaraan apa yang mengangkut dirimu denganku?"
Karena mereka para cendekiawan dan emosionalis, mereka tidak dapat memahaminya.
BAYAZID AL-BISTHAMI
Seorang Majusi pemuja api ditanya, mengapa ia tidak menjadi Muslim.
Ia menjawab:
"Jika maksudmu bahwa aku harus menjadi orang sebaik Bayazid, aku tidak berani. Bagaimanapun, jika maksudmu aku harus menjadi orang sejelek engkau, aku tidak sudi."
KELAS
Kelas-kelas yang lebih rendah pada masyarakat adalah mereka yang mempergemuk diri sendiri dalam kehidupan atas nama agama.
(Ibnu al-Mubarak)
NAMA-NAMA
Engkau menyebutku orang Kristen, untuk membuatku marah dan membuat dirimu sendiri merasa senang. Lainnya menyebut diri mereka orang Kristen, untuk membuat diri mereka sendiri merasakan emosi yang lain. Baiklah jika kita berurusan dengan kata-kata yang menyenangkan, aku akan menyebutmu penyembah setan. Itu akan memberimu suatu agitasi yang akan menyenangkan dirimu untuk beberapa waktu.
(Zabardast Khan)
BAYAZID AL-BISTHAMI
Seorang pria religius yang tulus, murid Bayazid, suatu hari berkata padanya:
"Aku terkejut bahwa seseorang yang menerima Allah tidak harus hadir di masjid untuk shalat."
Bayazid menjawab:
"Aku, di lain pihak, terkejut bahwa siapa pun yang mengetahui Allah dapat memuja dan tidak kehilangan akal sehatnya, menjalankan shalatnya yang tidak sempurna."
MELAYANI
Aku tidak akan melayani Allah seperti seorang buruh, dalam pengharapan akan upahku.
(Rabi'ah al-Adawiyah)
MENJADI SEORANG BERIMAN
Engkau mungkin melihat dirimu sendiri menjadi seorang beriman, bahkan bila engkau adalah penganut kemusyrikan.
Tetapi engkau tidak dapat benar-benar percaya pada sesuatu sampai engkau menyadari proses di mana engkau berada pada posisimu.
Sebelum engkau melakukan ini, engkau harus siap pada dalil (postulat), bahwa semua keyakinanmu mungkin salah, bahwa apa yang engkau anggap keyakinan mungkin hanya sejenis prasangka yang disebabkan oleh sekitarmu --termasuk warisan leluhurmu, yang engkau mungkin memiliki keterikatan perasaan padanya.
Keyakinan sejati milik kerajaan pengetahuan sejati. Hingga engkau memiliki pengetahuan, keyakinan adalah gabungan opini semata, bagaimanapun hal itu mungkin tampak bagimu. Gabungan opini melayani kehidupan biasa. Keyakinan hakiki dimungkinkan oleh pembelajaran yang lebih tinggi.
(Diatributkan pada Ali)
PANDAI BESI DARI NISYAPUR
Abu Hafsh sang pandai besi dari Nisyapur menunjukkan tanda-tanda anugerah yang aneh melalui kekuatan perhatiannya, dari awal ia menjadi murid. Ia diterima sebagai penganut Syeikh Bawardi, dan kembali ke bengkel melanjutkan kerjanya. Ketika pikirannya terpusat, ia menarik sepotong besi membara dari tempaan dengan tangan telanjang. Kendati ia tidak merasa panas, pembantunya pingsan melihat pemandangan yang belum pernah terjadi ini.
Ketika ia menjadi Syeikh Agung kaum Sufi di Khurasan, tercatat bahwa ia tidak berbicara bahasa Arab dan menggunakan penerjemah ketika berbicara dengan pengunjung Arab. Namun, ketika ia mengunjungi Sufi agung di Baghdad, ia berbicara dengan bahasa demikian bagus sehingga kemurnian bicaranya tidak tertandingi.
Ketika Syeikh Baghdad memintanya untuk mengatakan pada mereka arti kemurahan hati, ia menjawab, "Aku akan mendengar penjelasan yang lain lebih dulu."
Guru al-Junaid kemudian berkata, "Kemurahan hati adalah tidak menyamakan kemurahan hati dengan dirimu sendiri, dan tidak mempertimbangkannya."
Abu Hafsh berkomentar, "Perkataan Syeikh sangat bagus. Tetapi aku merasa bahwa kemurahan hati berarti melakukan keadilan tanpa menghendaki keadilan."
Al-Junaid berkata pada yang lain, "Berdirilah kalian semua! Karena Abu Hafsh melebihi Adham dan seluruh bangsanya."
Abu Hafsh pernah berkata, "Aku meninggalkan kerja, dan kemudian kembali. Lalu kerja meninggalkanku, dan aku tidak pernah kembali."
(Hujwiri: The Revelation of the Veiled)
ASY-SYIBLI DAN AL-JUNAID
Abu Bakr ibnu Dulaf ibnu Jahdar ('asy-Syibli'), dan Abul Qasim al-Junaid, si 'Merak Kaum Terpelajar', adalah dua guru Sufi awal. Mereka berdua hidup dan mengajar lebih dari seribu tahun yang lalu. Kisah tentang masa belajar asy-Syibli di bawah al-Junaid, diberikan di sini, diambil dari The Revelation of the Veiled, salah satu dari buku-buku penting dalam bidangnya. al-Junaid sendiri memperoleh spiritualitasnya melalui pengaruh Ibrahim ibnu Adham ('Ibnu Adhem' dalam puisi Leigh Hunt), ia sebagaimana Budha, adalah seorang pangeran yang turun tahta mengikuti tarekat (Jalan), dan meninggal pada abad kedelapan.
Asy-Syibli, anggota istana yang angkuh, pergi ke al-Junaid, mencari pengetahuan sejati. Katanya, "Aku dengar bahwa engkau mempunyai karunia pengetahuan. Berikan, atau juallah padaku."
Al-Junaid berkata, "Aku tidak dapat menjualnya padamu, karena engkau tidak mempunyai harganya. Aku tidak memberikan padamu, karena yang akan kau miliki terlalu murah. Engkau harus membenamkan diri ke dalam air, seperti aku, supaya memperoleh mutiara."
"Apa yang harus kulakukan?" tanya asy-Syibli.
"Pergilah dan jadilah penjual belerang."
Setahun berlalu, al-Junaid berkata padanya, "Engkau maju sebagai pedagang. Sekarang menjadi darwis, jangan jadi apa pun selain mengemis."
Asy-Syibli menghabiskan satu tahun mengemis di jalanan Baghdad, tanpa keberhasilan. Ia kembali ke al-Junaid, dan sang Guru berkata kepadanya:
"Bagi ummat manusia, kau sekarang ini bukan apa-apa. Biarkan mereka bukan apa-apa bagimu. Dulu engkau adalah gubernur. Kembalilah sekarang ke propinsi itu dan cari setiap orang yang dulu kau tindas. Mintalah maaf pada mereka." Ia pergi, menemukan mereka semua kecuali seorang, dan mendapatkan pengampunan mereka.
Sekembalinya asy-Syibli, al-Junaid berkata bahwa ia masih merasa dirinya penting. Ia menjalani tahun berikutnya dengan mengemis. Uang yang diperoleh, setiap senja dibawa ke Guru, dan diberikan kepada orang miskin. Asy-Syibli sendiri tidak mendapat makanan sampai pagi berikutnya.
Ia diterima sebagai murid. Setahun sudah berlalu, menjalani sebagai pelayan bagi murid lain, ia merasa menjadi orang paling rendah dari seluruh makhluk.
Ia menggunakan ilustrasi perbedaan antara kaum Sufi dan orang yang tidak dapat diperbaiki lagi, dengan mengatakan hal-hal yang tidak dapat dipahami masyarakat luas.
Suatu hari, karena bicaranya tidak jelas, ia telah diolok-olok sebagai orang gila di masyarakat, oleh para pengumpat. Dia berkata:
Bagi pikiranmu, aku gila.
Bagi pikiranku, engkau semua bijak.
Maka aku berdoa untuk meningkatkan kegilaanku
Dan meningkatkan kebijakanmu
'Kegilaanku' dari kekuatan Cinta;
Kebijakanmu dari kekuatan ketidaksadaran.
GHULAM HAIDAR DARI KASHMIR
Mendengarkan suatu perdebatan diantara murid-muridnya, mengenai pentingnya ketaatan dengan sangat teliti terhadap hukum keagamaan, sebagai sarana penerangan, Ghulam Haidar memberi perintah, atas suatu alasan, agar mengumpulkan orang-orang berikut dan dibawa ke hadapannya;
Seorang Yahudi, seorang Kristen, seorang Zoroaster, seorang pendeta Hindu, seorang Sikh, seorang Budha, seorang Farangi ('Frank' atau Kristen), seorang Syiah, seorang Sunni, seorang penyembah berhala, dan lainnya. Terakhir, termasuk pedagang, pekerja, petani, pendeta dan pramuniaga, tukang roti dan berbagai tipe perempuan.
Selama tiga tahun murid-muridnya mengumpulkan orang-orang ini di satu tempat secara bersamaan, tidak memberitahu mereka bahwa kehadiran mereka diminta oleh guru. Dalam usaha tersebut, mereka menyebarkan rumor, tentang harta karun di Kashmir, dijadikan pedagang, dikirim ke tempat jauh untuk menjadi guru pribadi serta pelayan. Akhirnya, semua terkumpul. Ketika diberitahu bahwa sudah ada, Ghulam Haidar menyuruh mereka agar orang-orang tersebut diundang makan di Gedung Kuliahnya, Zawiya.
Ketika semua selesai makan, Pir (Ghulam Haidar) menunjukkan kepada tamu yang sebagian besar adalah orang-orang asing yang tidak mengikuti ajarannya. Juga hadir semua murid, yang telah diberitahu tidak boleh ikut ambil bagian dalam acara tersebut, kecuali menonton.
Ghulam Haidar berbicara dalam beberapa bahasa, menjelaskan perlunya bagi manusia untuk mengabdikan dirinya pada usaha, dan menguasai misteri yang menjadi hak asasinya, tanpa memperhatikan prasangkanya.
Tanpa kecuali, orang-orang tersebut berhasrat mengikuti Pir, dan rasa saling benci mereka hilang. Dan tamu-tamu tersebut tersebar, bahwa guru dikenal sebagai 'Sepotong Roti'; mereka 'Adonan yang dibuat Kashmir Pir', tanpa menghiraukan prasangka dasar mereka.
Setelah pertemuan ini, Haidar berkata: "Adonan adalah adonan," dan "satu adonan tidak lebih baik dari yang lainnya."
JANGAN MAKAN BATU
Seorang pemburu berjalan menembus hutan, dan ia melihat sebuah papan pemberitahuan yang dibacanya: 'Dilarang Makan Batu'.
Keingintahuannya timbul, dan ia mengikuti jalan setapak melewati tanda tersebut sampai tiba di sebuah gua, di pintu masuk terdapat seorang Sufi sedang duduk.
Sufi berkata padanya:
"Jawaban untuk pertanyaanmu adalah bahwa engkau tidak pernah melihat sebuah pemberitahuan larangan makan batu, karena memang tidak dibutuhkan siapa pun. Tidak makan batu bisa disebut kebiasaan umum."
"Hanya apabila manusia mampu menghindari kebiasaan lain yang sama, bahkan lebih destruktif daripada makan batu, ia akan bisa melebihi keadaannya yang menyedihkan pada saat ini."
MENGAPA ANJING TIDAK DAPAT MINUM
Asy-Syibli ditanya:
"Siapa yang membimbingmu di jalan?"
Ia berkata, "Seekor anjing. Suatu hari aku melihatnya hampir mati kehausan, berdiri di tepi air. Setiap kali melihat bayangannya di air, ia ketakutan dan mundur, karena dikiranya itu anjing lain. Akhirnya, karena sangat membutuhkan, ia mengusir rasa takutnya dan melompat ke air; dan 'anjing lain' itu pun lenyap."
Anjing tersebut menemukan bahwa rintangan, yang ternyata dirinya sendiri, penghalang antara dirinya dan apa yang ia cari, mencair.
"Dalam cara yang sama, rintanganku sendiri lenyap, ketika aku tahu bahwa itu adalah apa yang kuambil sebagai milikku sendiri. Dan jalanku pertama kali ditunjukkan padaku melalui perilaku seekor anjing."
PERAGAAN LATIHAN
Suatu hari, orang yang jahat mengundang Osman al-Hiri untuk makan bersamanya. Ketika Syeikh datang, orang tersebut mengusirnya. Tetapi ketika sudah pergi beberapa langkah, ia memanggilnya kembali.
Hal ini terjadi lebih dari tigapuluh kali, sampai orang lain, tidak sabar melihat kesabaran dan kelembutan sang Sufi, segera berlutut mohon ampun.
"Engkau tidak mengerti," ujar al-Hiri, "Apa yang kulakukan tidak lebih dari yang dilakukan anjing terlatih. Kalau engkau memanggilnya, ia datang; ketika engkau mengusirnya, ia pergi. Perilaku ini bukan ciri Sufi, dan tidak sulit dilakukan oleh siapa pun."
APA YANG DIUCAPKAN SETAN
Pada suatu ketika terdapatlah seorang darwis. Saat duduk merenung, ia memperhatikan bahwa terdapat semacam setan di dekatnya.
Si darwis berkata, "Mengapa engkau duduk di sana, tidak berbuat jahat?"
Setan mendongakkan kepala dengan letih, "Sejak para ahli dan calon guru di tarekat semakin bertambah, tidak ada lagi yang dapat kulakukan."
EMPAT SYEIKH DAN KHALIFAH
Khalifah Manshur memutuskan untuk mengangkat salah satu dari empat Syeikh Sufi Agung, menjadi Hakim Agung di Kerajaan. Mereka dipanggil ke Istana -- Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Misar dan Syuraih -- tetapi di jalanan mereka sudah membuat rencana.
Abu Hanifah, salah seorang dari Empat Doktor Utama Ilmu Hukum, sebagaimana dia sekarang disebut, berkata: "Aku akan lari dari kedudukan tersebut dengan pengelakan. Misar akan berpura-pura gila. Sufyan akan melarikan diri; dan aku perhitungkan bahwa Syuraih yang akan menjadi Hakim."
Sufyan segera pergi dan menghilang, melarikan diri menjadi terhukum karena tidak setia. Tiga orang yang lainnya masuk dan mendatangi Khalifah.
Pertama, Manshur berkata pada Abu Hanifah, "Engkau akan menjadi Hakim."
Abu Hanifah menjawab, "Wahai Pemimpin Ummat, aku tidak bisa, aku bukan orang Arab; oleh karena itu aku tidak mungkin diterima oleh orang-orang Arab."
Khalifah berkata, "Ini tidak berkaitan dengan darah. Kita perlu pelajaran, dan engkau guru paling dihormati saat ini."
Abu Hanifah bersikeras, "Jika kata-kataku benar, aku tidak dapat menjadi Hakim. Dan jika mereka salah, aku tidak pantas untuk kedudukan itu, dan karena itu aku tidak memenuhi syarat."
Maka Abu Hanifah menjelaskan maksudnya, dan dibebaskan.
Misar, calon kedua yang merasa segan, mendekati Pemimpin Ummat dan menyentuh tangannya, menangis:
"Apakah engkau baik-baik, engkau dan si kecil dan ternakmu?"
"Bawa dia," teriak Khalifah, "Karena jelas ia gila."
Hanya tinggal Syuraih, dan mengaku sakit. Tetapi Manshur menyuruhnya menjalani pengobatan, dan menjadikannya Hakim.
MASALAH KEHORMATAN
Seorang Sufi pengembara, ditemukan di padang pasir, dibawa ke tenda kepala suku Badui yang liar.
"Kau mata-mata musuh kami, dan karena itu kami akan membunuhmu," ujar kepala suku.
"Aku tidak bersalah," jawab Sufi.
"Kau lihat pedang ini?" tanya Sufi, menggambar pedang. "Sebelum kau dapat mendekatiku, akan kubunuh salah satu dari orang-orangmu di sini. Jika kulakukan; kau akan memiliki hak yang sah untuk membalas kematiannya. Sementara melakukan itu, aku akan menyelamatkan kehormatanmu, yang saat ini dalam bahaya karena ternoda oleh darah seorang Sufi."
FUDHAIL ORANG JALANAN DAN ANAKNYA
Fudhail ibnu Ayyadh, dulunya adalah orang gelandangan. Setelah berubah ke kehidupan religius, ia merasa bahwa dirinya menyembah Allah di jalan yang benar dan membayar perbuatan jahatnya, karena itu ia mencari semua korban dan mengganti kerugian mereka. Suatu hari, ia merasakan pengalaman aneh. Ia meletakkan anaknya di lututnya dan menciumnya. "Apakah engkau menyayangiku?" tanya si anak, "Ya, tentu saja," jawab Fudhail. "Tetapi bukankah engkau juga menyayangi Allah, seperti yang sering engkau katakan padaku?" "Ya, aku yakin demikian," jawab si ayah.
"Tetapi bagaimana, engkau dapat dengan satu hati mencintai dua kekasih?"
Sejak saat itu Fudhail menyadari bahwa apa yang dicintai, sesungguhnya hanyalah sentimentalitas, dan bahwa ia harus menemukan bentuk cinta yang lebih tinggi.
Peristiwa tersebut adalah merupakan asal perkataannya:
"Apa yang secara umum dianggap sebagai pencapaian ummat manusia paling tinggi atau mulia, sesungguhnya adalah tingkatan paling rendah dari hal-hal tinggi yang mungkin dicapai bagi ummat manusia."
MASALAH KEDERMAWANAN
Seorang murid, memberi hormat kepada Sufi, dengan penuh ingin tahu ia bertanya, "Mengapa tigapuluh bagal Herat yang amat bagus ada di halaman Anda?"
Sang Guru menjawab, "Mereka untukmu."
Murid senang sekali mendengar bahwa mereka semua untuknya, kendati demikian ia bertanya, "Aku harus membayar tentunya?"
"Harganya," ujar guru, "mungkin lebih dari yang dapat kau bayar dengan dirimu sendiri. Tetapi syaratnya, jangan mengatakan pada siapa pun bahwa aku memberimu bagal. Aku di sini bukan untuk dikenal sebagai 'orang baik' diantara orang lain karena perbuatan demikian. Pada umumnya orang berpikir bahwa sesuatu 'baik' yang akibat dan asalnya tidak dapat mereka mengerti."
"Tidak ada yang lebih kecil daripada hargamu," jawab murid. Ia tuntun bagal-bagal tersebut dengan gembira, berbicara pada dirinya sendiri, "Guruku sesungguhnya menguntungkan diriku. Ini manifestasi luar dari suatu berkah bagian dalam."
Senja tiba, dan dalam beberapa saat murid tersebut sudah ditangkap patroli malam. Salah seorang dari mereka bicara pada yang lain, "Kita tuduh saja orang ini atas kejahatan tertentu yang tidak dapat kita pecahkan. Kita dapat menduga bahwa ia membeli bagal-bagal ini dari keuntungannya mencuri, jika ia tidak dapat mempertanggungjawabkan kemilikan mereka. Ia mungkin bersalah, tengah dalam pengobatan dan miskin. Sebagian dari kita pernah melihatnya sebelumnya, dan percaya bahwa ia mempunyai teman dengan karakter rneragukan."
Dibawa ke depan pengadilan sumir, si murid pertama-tama menolak menjawab berbagai pertanyaan tentang asal-mula bagal tersebut. Hakim yang memeriksa memerintahkan agar ia dimasukkan ke tempat interogasi.
Sementara itu, murid yang lain mendatangi guru, yang mengirim mereka, secara berantai, mengikuti nasib dari murid pertama.
Mereka melaporkan, dari waktu ke waktu, "Ia menolak bicara," dan, "Ia semakin lemah -- mereka menyiksanya."
Akhirnya Sufi berdiri dan tergopoh-gopoh menuju pengadilan.
Ia bersaksi hahwa dirinya yang memberi bagal-bagal kepada orang tersebut,. karenanya si tahanan dibebaskan. Kemudian ia menunjuk pengadilan, muridnya dan publik, yang bingung atas peristiwa tersebut:
"Reputasi kedermawanan mengandung tiga kejahatan; ia dapat merusak manusia yang mempunyai reputasi ini; dapat membahayakan manusia yang memuja kedermawanan jika ia menirunya secara bebal; dapat mengikis siapa pun yang menerima kedermawanan jika ia tahu pemberinya. Seharusnya tidak ada kewajiban apa-apa. Itulah mengapa Sufi berkewajiban melatih kedermawanan dengan kerahasiaan yang lengkap.
Bentuk kedermawanan paling tinggi yang dikenal orang awam sebanding dengan tingkat paling rendah kedermawanan sejati. Semula diadakan sebagai cara mengenalkan orang pada kebebasan. Kemudian menjadi berhala dan kutukan."
ORANG YANG BERUNTUNG
Al-Mahdi Abbassi mengemukakan pendapat yang dapat dibuktikan bahwa, apakah orang-orang mencoba membantu seseorang atau tidak sesuatu yang ada pada seseorang dapat menggagalkan sebuah tujuan tersebut.
Beberapa orang keberatan dengan teori ini, ia menjanjikan sebuah demonstrasi. Ketika setiap orang lupa peristiwa tersebut, al-Mahdi menyuruh seorang pria meletakkan sekarung emas di tengah jembatan. Pria lain diminta membawa orang berhutang yang tidak beruntung ke salah satu ujung jembatan dan menyuruhnya menyeberang.
Abbassi dan saksi-saksinya berdiri di ujung jembatan yang lain. Ketika orang itu pergi ke ujung lain, Abbassi bertanya padanya, "Apa yang kau lihat di tengah jembatan?"
"Tidak ada,", jawabnya.
"Bagaimana bisa demikian?"
"Segera setelah aku mulai menyeberangi jembatan, pikiran yang ada padaku adalah bahwa barangkali menyenangkan menyeberang dengan mata tertutup. Dan kulakukan."
BUNGA DAN BATU
Ketika guru agung dan syuhada Manshur al-Hallaj berada di tengah kerumunan, dihukum karena kemurtadan dan bid'ah, ia tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan saat tangannya dipotong di depan umum.
Ketika kerumunan orang melempar batu yang menyebabkan luka parah, ia tenang saja. Salah seorang temannya, seorang guru Sufi, mendekatinya dan memberinya -- bunga.
Manshur berteriak seolah dalam siksaan.
Ia melakukan ini untuk menunjukkan bahwa ia tidak dapat disakiti oleh perbuatan orang-orang yang mengira mereka berbuat benar. Tetapi hanya sentuhan dari orang yang tahu, seperti dia, bahwa dirinya dihukum dan dituduh dengan tidak adil, jauh lebih menyakitkan baginya dari siksaan apa pun.
Manshur dan teman Sufinya, tidak berdaya kendati mereka ada di depan tirani seperti itu, teringat akan pelajaran tersebut. Sementara penganiaya-penganiaya mereka hampir terlupakan.
Saat sekarat, Manshur berkata, "Orang-orang di dunia ini mencoba berbuat baik. Aku anjurkan engkau mencari sesuatu di mana bagian paling kecilnya lebih berarti daripada semua kebaikan; pengetahuan tentang kebenaran -- pengetahuan sejati."
HANBAL DAN PEMIKIRAN YANG TERKONDISI
Ahmad ibnu Hanbal adalah pendiri salah satu dari empat madzhab hukum yang besar, dan sahabat beberapa Guru Sufi awal. Di masa tua dan lemahnya, sebuah kelompok bid'ah di Baghdad merampas kekuasaan dan mencoba menyingkirkan dirinya, yang dari sudut pandang mereka dianggap sebagai kebenaran.
Imam Ahmad menolak, maka ia diberi seribu cambukan dan disiksa. Sebelum mati, dan memang meninggal segera setelah disiksa, ia ditanya apa yang ia pikirkan tentang pembunuh-pembunuhnya.
Katanya, "Aku hanya dapat mengatakan bahwa mereka memukulku karena mereka percaya bahwa mereka benar dan aku salah. Bagaimana aku dapat menuntut keadilan terhadap mereka yang percaya bahwa mereka benar?"
ORANG PERCAYA APA YANG DIKIRA BENAR
Ajaran, sebagaimana kebiasaannya, sepanjang urusan kehidupan secara umum. Syeikh Abu Thahir al-Harami mengendarai keledainya ke pasar, seorang murid mengikuti di belakang.
Di sisinya, seseorang berteriak, "Lihat, ini orang kafir kuno!"
Sang pengikut al-Harami, timbul amarahnya, berteriak pada tukang fitnah tersebut. Sebelum pertikaian semakin sengit, Sufi menenangkan muridnya, berkata, "Jika engkau menghentikan pertengkaran ini, aku akan menunjukkan padamu bagaimana engkau dapat melarikan diri dari persoalan seperti ini."
Mereka pergi bersama ke rumah Syeikh. Lantas Syeikh menyuruh pengikutnya membawakan sekotak surat: "Lihatlah ini. Semua surat ini ditujukan padaku. Tetapi mereka menulis istilah yang berbeda. Ini seseorang menyebutku 'Syeikh Islam', kemudian, 'Guru Mulia'. Lainnya mengatakan aku 'Orang Bijak dari Altar Kembar'. Dan sebutan-sebutan lainnya.
Amatilah bagaimana masing-masing sebutanku sesuai dengan anggapan mereka. Tetapi aku tidak satu pun seperti apa yang ia pikirkan demikian. Demikian itulah yang baru saja dilakukan orang malang di pasar tadi. Dan engkau menolaknya. Mengapa engkau berbuat demikian -- sudah menjadi aturan umum dalam kehidupan?"
ARAH MANA YANG BENAR?
Seorang bijak yang dihormati secara luas, menjadi irrasional dalam mengajukan fakta-fakta dan argumentasi. Diputuskan untuk mengujinya, sehingga yang berwenang di negara tersebut dapat menyatakan apakah ia membahayakan tatanan masyarakat atau tidak.
Pada hari pengujian, ia berparade melewati ruang pengadilan menunggang seekor keledai, menghadap ke belakang keledai. Ketika saatnya berbicara untuk dirinya sendiri, ia berkata pada hakim:
"Saat Anda melihatku tadi, ke arah mana aku menghadap?"
Hakim menjawab, "Menghadap ke arah yang salah."
"Anda menggambarkan maksudku," jawabnya, "karena aku telah menghadap ke arah yang benar, dari sudut pandangku. Keledainyalah yang menghadap ke arah yang salah."
SANG GURU
Berkaitan dengan guru Sufi, bahwa di masa mudanya, ia ingin mendekatkan diri pada guru yang tengah mengajar. Maka ia mencari guru, dan minta menjadi muridnya.
Guru berkata, "Kau belum siap."
Karena anak muda itu terus bersikeras, guru mengatakan, "Baiklah, aku akan mengajari engkau sesuatu. Aku akan pergi haji ke Mekkah. Ikutlah bersamaku."
Si murid sangat gembira.
"Karena kita bepergian bersama," ujar guru, "yang satu harus memimpin, lainnya patuh. Pilih peranmu."
"Aku akan mengikuti, Anda memimpin," jawab murid.
"Jika kau tahu bagaimana mengikuti," ujar guru.
Perjalanan dimulai. Saat mereka istirahat semalam di padang pasir Hijaz, mulailah hujan. Guru berdiri dan memegang penutup untuk murid, melindunginya.
"Tetapi ini yang seharusnya kulakukan untuk Anda," ujar si murid.
'Aku perintahkan kau untuk membiarkan aku melindungimu," ujar guru.
Saat tengah hari, anak muda berkata, "Sekarang hari baru. Biarkan aku jadi pemimpin, dan Anda mengikutiku." Guru setuju.
"Sekarang aku akan mengumpulkan ranting kayu, untuk membuat api," kata anak muda.
"Kau tidak boleh melakukan itu, aku yang akan mengumpulkannya," jawab guru.
"Aku perintahkan Anda duduk di sana sementara aku mengumpulkan ranting kayu," ujar si anak muda.
"Kau tidak boleh melakukan ini," jawab guru, "karena ini tidak sesuai dengan persyaratan pengikut membiarkan dirinya dilayani oleh pemimpin."
Maka pada setiap kesempatan, Guru menunjukkan pada murid, apa sesungguhnya arti murid, melalui demonstrasi. Mereka berpisah di pintu gerbang Kota Suci. Menemui guru selanjutnya, anak muda itu tidak dapat menemukannya.
"Itulah yang harus kau pelajari," ujar orang lebih tua darinya, "adalah sesuatu tentang sikap dasar hubungan murid."
Murid harus tahu bagaimana mematuhi, bukan semata ia harus taat. Pertanyaan apakah menjadi murid atau tidak, datang setelah seseorang tahu apa sesungguhnya murid. Orang-orang menghabiskan waktu mereka bertanya-tanya apakah mereka harus menjadi murid -- atau yang lainnya. Sejak asumsi mereka (bahwa mereka dapat menjadi murid jika mengharapkannya) tidaklah benar, mereka hidup di dunia yang salah, dunia kaum intelektual. Orang-orang seperti itu tidak mempelajari pelajaran pertama.
HILALI DARI SAMARKAND
Hilali, ditemani lima muridnya, melakukan perjalanan jauh melintasi Asia Tengah. Dari waktu ke waktu, Hilali membuat rombongannya bertindak dalam cara beragam. Inilah beberapa petualangan mereka:
Ketika mereka mencapai Balkh dan utusan dari penduduk kota datang menyambut Guru, Hilali berkata kepada Yusuf Lang, "Kau jadilah Guru." Yusuf pun diterima dan dihormati. Laporan-laporan menyebar tentang keajaiban yang terjadi hanya dengan tinggal di bawah atap yang sama seperti orang-orang sakit. "Inilah apa yang orang-orang pikir mengenai kedarwisan, dan apa yang kita tahu tidaklah demikian," ujar Hilali.
Di Surkhab, rombongan memasuki kota yang semua penduduk berpakaian sama, tidak seorang pun berjalan di depan yang lain. "Manakah Guru Agung?" tanya pemimpin kota. "Akulah ia," jawab Hilali. Tiba-tiba mereka mundur sambil berseru, "Kami mengetahuinya melalui Cahaya Matanya."
"Ambil pelajaran dari ini," ujar Hilali kepada rombongannya.
Ketika memasuki Qandahar mereka diberi banyak makanan oleh Pemimpin Sardar, semua duduk melingkar. Hilali memberi perintah bahwa ia harus diperlakukan seperti murid, dan Jafar Akhundzada diperlakukan seperti Guru. Tetapi Pemimpin Sardar berkata, "Bahwasanya, rombongan ini bersinar dengan cahaya spiritual, dan apa pun yang kau katakan tentangnya, aku menganggapnya sebagai Qutub, Pusat Daya Tarik Zaman."
Semua menghormati Hilali, yang terpaksa memperkenalkan diri, Sardar meskipun penguasa, juga mempunyai kapasitas merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain.
KUTUKAN ORANG BADUI
Suatu hari, di Oasis Kufah, seorang suku Badui yang kasar melangkahi Hasan, cucu Nabi Muhammad saw, dan mencacinya, ayahnya dan ibunya.
Hasan berkata, "Orang Badui, apakah kau perlu bantuan? Apa masalahmu?"
Tetapi si Badui, tanpa memperhatikan sama sekali, terus berteriak dan menyumpah. Hasan membawa uang dan memberikannya pada orang tersebut, dan bicara padanya lagi:
"Orang Badui, maafkan! Hanya ini yang ada di rumah ini; tetapi aku berkata, bahwa jika kami mempunyai yang lain, akan kuberikan padamu, tanpa syarat."
Ketika mendengar kata-kata ini, si Badui tertegun dan menangis, "Aku bersaksi bahwa kau benar-benar cucu Nabi. Karena aku datang ke sini untuk menguji apakah silsilahmu dan sikapmu sesuai satu dengan yang lainnya."
MENGAPA DARWIS DI ISTANA
Salah satu perintah Hadrat ibnu al-Khafif di Syiraz adalah: "Seharusnya Sufi tidak mendatangi penguasa, atau datang dengan senang hati jika diundang olehnya."
Oleh karena itu, merupakan suatu peristiwa yang mengejutkan bagi dua orang calon Sufi yang tiba di rumahnya (Ibnu al-Khafif), saat mereka bercerita bahwa ia berada di istana raja.
Mereka berubah pikiran tentang kesucian sang Guru dan memutuskan berjalan di kota sebagai pengganti penghormatan mereka padanya.
Mengunjungi sebuah toko, mereka dengan tidak merasa berdosa terlibat dalam suatu pertengkaran, karena dituduh mencuri dan diseret di depan pengadilan raja.
Diyakinkan oleh penjaga toko bahwa keduanya bersalah, kerajaan memerintahkan agar mereka segera dibunuh, sebagai pelajaran bagi yang lain.
Ibnu al-Khafif, masih di pengadilan istana, menengahi dan hidup mereka diselamatkan.
"Mungkin sudah wajar bagimu berpikir bahwa tidak seharusnya aku ada di istana," ujar guru kepada keduanya, "tetapi setidaknya pelajarilah bahwa seorang Sufi melakukan hal-hal yang tak terduga karena alasan-alasan yang tidak kelihatan tetapi cukup beralasan."

Selasa, 07 Februari 2012

pajak motor agan mati,tenang gan POLISI GAK BERHAK NILANG KOK



agan aganwati ada yang pernah ketilang,,?kalo ane sering gan...


Ada yg punya informasi tentang tilang krn telat bayar pajak kendaraan motor gak ? masih simpang siur nih... , jg sampe kita di boongi sama polisi,
dari berbagai sumber yg gw baca, polisi tuh gak berhak menilang apalagi pake acara nahan motor kita..., polisi tuh cuma wajib menegur kita utk bayar pajak.
kalo tetep ngotot minta pd polisi tsb peraturannya ? pasal berapa ? suruh menunjukkan...klau ngak bisa jangan mau..!

soalnya telat bayar pajak itu sudah ada sanksi tersendiri yaitu denda...dan itu urusan dinas pendapatan daerah (dispenda)

ini kutipan dari web : kontan,

Menurut apa yang tertulis dalam Undang-Undang Lalulintas No.14 Tahun 1992 itu, polisi hanya boleh menilang pelanggaran yang bersangkutan dengan kelengkapan kendaraan. “Misalnya, lengkap surat-menyuratnya (SIM dan STNK), ada lampunya, lalu lampu sein menyala, dan seterusnya,” tutur Iwan.

Berdasarkan aturan itu juga, cuma polisi yang berhak mengambil tindakan terhadap pelanggaran yang terjadi di jalanan.

Eh, ini urusan Dispenda

Setelah Undang-undang itu dilaksanakan, ada instruksi bersama antara Menhankam, Mendagri, dan Menkeu tentang Sistem Administrasi Negara di Bawah Satu Atap. Kesepakatan inilah yang berkaitan dengan pajak kendaraan. Kesepakatan yang terjadi pada tahun 1990 itu masih berlaku sampai sekarang. “Jadi, polisi secara resmi terlibat, tapi dengan semangat mengamankan pendapatan Negara,” ujar Iwan lagi.

Meski begitu, selama menyangkut pajak kendaraan, polisi hanya berwenang menghentikan kendaraan dan menanyakan status pajak. Jika ternyata memang belum membayar pajak, polisi hanya boleh mencatat surat kendaraan. “Data tersebut diserahkan kepada Dispenda setempat,” kata Rahmat Ahyar, Wakil Kepala Dispenda DKI Jakarta.

Bisakah polisi menilang gara-gara soal pajak ini? “Kalau mengikuti undang-undang sebenarnya tidak bisa. Soal pajak itu urusannya Dispenda,” kata Iwan. Berkaitan dengan soal pajak ini, polisi tidak bisa menyita STNK atau SIM, apalagi hingga menahan mobil atau motor yang dimaksud.

Hal ini dibenarkan oleh Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya, Djoko Susilo. “Masalah pajak bukan urusan polisi, tapi Dispenda. Kalau masalah pajak polisi enggak berhak menilang,” kata Djoko.

Bahkan, seandainya pembayar pajak yang telat ini pas kena razia di jalanan umum, polisi tetap tidak bisa berbuat apa-apa. “Kalau semua surat lengkap dan gak ada masalah, ya, enggak bisa ditilang,” ucapnya.

Jika si polisi tetap mengambil tindakan menilang, Djoko menyarankan agar si pengendara mengajukan komplain secara resmi. Pengendara bisa mencatat nama polisi yang tertera di seragam dan melaporkan kepada yang berwenang.


mengenai surat tilang:

saat menilang, polisi memiliki dua kertas: biru dan merah. Warna biru artinya pengendara mengakui kesalahan, sedangkan merah berarti pengendara tidak mengakui kesalahan Konsekuensinya pun berbeda. “Kalau yang merah untuk pengadilan. Yang biru untuk ke bank,” kata Djoko Susilo, Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya.

Kalau Agan memilih warna biru, proses yang akan dilalui mudah. Yakni, datang ke bank dan membayar denda sesuai ketentuan. “Ada daftar jenis pelanggaran dan dendanya,”

Dengan bukti pembayaran dari bank, agan bisa mengambil surat yang disita polisi. Walhasil, Agan pun bisa mengirit waktu.

Sementara, kalau berkas merah yang dipilih, Agan harus datang ke pengadilan. Hanya saja, di pengadilan, Agan boleh membayar di bawah ketentuan denda jika sedang bokek. “Kalau lewat pengadilan bisa kurang”

ada yg bisa menambahkan ??


semoga info ini bermanfaat.. soalnya kesel jg dah tertipu 2 x...

Update

UU & Denda khusus Kendaraan Roda Dua

1. Motor harus lengkap nomor polisi. Hilang satu kena Pasal 280. Bunyinya (diringkas), orang, yang mengendarai motor tidak dipasangi tanda nomor (pelat nomor) yang ditentukan polisi sebagaimana yang dimaksud Pasal 68 ayat1, dipidana kurungan 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500.000

2. Punya SIM. Nekat berkendara tanpa mengantongi surat izin mengemudi (SIM) (sesuai Pasal 281) dikenakan Pasal 77 ayat 1 dipidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp.1 juta.

3. Jangan SMS atau telepon saat berkendara, mabok, dan lainnya. Itu mengganggu konsentrasi pengendara. Pasal 283 siap menjerat dengan bunyi: Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagai diatur dalam Pasal 106 ayat 1 dipidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda Rp 750.000.

4. Jalan di trotoar. Pasal 106 ayat 2 akan menjerat dengan hukuman berupa kurungan 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp 500.000 karena dalam pasal tersebut jelas disebutkan, Anda tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepeda kala mengemudikan kendaraan bermotor.

5. Standar motor tak lengkap. Perhatikan kaca spion, lampu utama, rem, penunjuk arah, pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban. Bila tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan, maka sebagaimana dimaksud Pasal 106 ayat 3 juncto Pasal 48 ayat 2 dan ayat 3, (pelanggar) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250.000.

6. Marka jalan. Simak Pasal 287. Yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas sebagaimana dimaksud Pasal 106 ayat 4 huruf a atau marka jalan (Pasal 106 ayat 4 huruf b) dipidana dengan pidana kurungan 2 (dua) bulan atau denda palilng banyak Rp 500.000.

7. Helm harus logo SNI. Pakai helm "cetok" atau helm proyek bakal diadang Pasal 106 ayat (8), yaitu dipidana dengan pidana kurungan a (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000. Helm harus memenuhi standar SNI.

8. Boncengan tiga atau lebih. Mengangkut penumpang lebih dari satu, sebagaimana disebut dalam Pasal 106 ayat 9, dipidana dengan pidana kurungan 1 (satu) bulan atan denda paling banyak Rp 250.000.

9. Balap liar. Yang suka kebut-kebutan, apalagi balap liar sebagaimana disebutkan Pasal 115 huruf b, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 3 juta.

10. Menerobos palang pintu kereta api. Bagi yang menerobos lintasan rel kereta, sementara palang pintu sudah ditutup dan sinyal sudah bunyi, Pasal 114 siap menjerat mereka dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 750.000.

Penyelewengan Tugas Kepolisian

Dalam melaksanakan tugasnya, Petugas Kepolisian dianggap menyeleweng bila:

1.Tindakan petugas menghentikan kendaraan bermotor untuk dilakukan pemeriksaan tanpa ada dasar yang jelas, seperti pelanggaran yang tertangkap tangan, atau pelaksanaan operasi kepolisian.
2. Meminta atau menerima denda terhadap pelanggaran lalu lintas tanpa memberikan surat tilang.
3. Menilang atau menyita kendaraan tanpa dasar yang jelas, seperti menilang atau menyita kendaraan karena telat bayar pajak atau telat registrasi ulang STNK, masih dalam waktu kurang dari 2 (dua) tahun setelah habis masa berlaku STNK.

Senin, 23 Januari 2012

Do'a Qunut

أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ,
ALLHUMMAHDINI FIIMAN HADAIT
Ya Alloh tunjukkanlah aku bersama orang yang Engkau beri petunjuk

وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ,
WA'AAFINII FIIMAN 'AAFAIT
selamatkanlah aku bersama mereka yang telah Enkau beri keselamatan

وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ,
WA TAWALLANII FIIMAN TAWALLAIT
pelihara-lah aku bersama mereka yang telah Engkau pelihara

وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ,
WA BAARIKLLII FIIMAA A'THOIT
berikanlah keberkahan pada sesuatu yang Engkau berikan padaku

وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ,
WAQINII SYARROMAA QODLOIT
Dan jagalah aku dari kejahatan apa saja yang telah Engkau tetapkan

فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ,
FAINNAKA TAQDHI WALA YUQDLO 'ALAIK
karena sesungguhnya Engkaulah yang menghukumi dan tidak dihukumi

وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ,
WAINNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIT
dan sesunguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau tolong

تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
TABAAROKTA ROBBANAA WATA'ALAIT
maka Maha Agunglah Engkau dan Maha luhurlah Engkau


وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ
WA SHOLLALLOHU 'ALAN NABI
dan semoga Alloh tetap mencurahkan keselamatan dan kesejahteraan pada Nabi Muhammad
رواه أبو داود والنسائى
(HR An-Nasa’i dan Abu Dawud)

(الأذكار ص57)
lihat kitab Al-Adzkar halaman 57

Senin, 26 September 2011

Nama Wali Alloh Auliya di kebumikan di DKI JAKARTA

1. AL-HABIB HUSEIN BIN MUHSIN AL-AYDRUS

2. SYARIFAH SALMA BINTI HUSEIN AL-AYDRUS

3. MBAH PANGERAN SYARIF (DATUK BANJIR) BIN SYEIKH ABDURROHMAN (LUBANG BUAYA)

4. AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN HASAN BIN HUD AL-ATHOS (Al-Khaerot)

5. AL-HABIB ‘ALI BIN HUSEIN AL-ATHOS (Al-Hawi)

6. AL-HABIB AHMAD BIN ABDULLAH BIN HASAN AL-ATHOS (Al-Khaerot)

7. AL-HABIB ‘IDRUS BIN HUSEIN AL-HAMID AL-KHOIROT (Kramat Al-Khaerot)

8. PANGERAN JAYAKARTA BIN PANGERAN SUNGRASA WIJAYA KARTA BIN TUBAGUS ANGKE (Klender)

9. PANGERAN LAHUT (Klender)

10. PANGERAN SEGIRI BIN SULTAN AGUNG TIRTAYASA (Klender)

11. PANGERAN SURYA (KLENDER)

12. RATU ROFIAH (KLENDER)

13. SYEIKH KOMPI UBAN (KRAMAT CIPINANG)

14. SYEIKH DATUK GEONG (KRAMAT JATI)

15. SYEIKH DATUK BANJAR (KRAMAT JATI)

16. KYAI QOSIM BIN KYAI TOHIR (PULO)

17. AL-HABIB UMAR (KRAMAT KOMPI MAS SEMPER)

18. AL-HABIB MUHAMMAD SYARIF BIN ALWI BIN HASAN BIN ALI ASSEGAF (KOMPI JENGGOT)

19. SYEIKH KOMPI TIMUR (KRAMAT SUNTER)

20. SYEIKH KOMPI BARAT (KRAMAT SUNTER)

21. SYEIKH KOMPI RESO (KRAMAT SUNTER)

22. SYEIKH KOMPI PENGANTIN (KRAMAT YOS SUDARSO)

23. AL-HABIB SYARIF BIN ‘ALI BIN HUSEIN BIN UTSMAN (CUCU SUNAN GUNUNG JATI 19, KRAMAT MENGKOK) SEMPER

24. SAYYID ALI (KRAMAT BATU TIMBUL/TUMBUH SEMPER)

25. PANGERAN PUGER BIN MUHAMMAD BIN SULTAN HASANUDIN (KRAMAT DEWA KEMBAR)

26. AL-HABIB SALIM BIN SYEIKH ABU BAKAR (DEWA KEMBAR)

27. AL-HABIB SAYYID HUSEIN BIN HASAN BIN SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT DEWA KEMBAR)

28. AL-HABIB ‘ALI BIN AHMAD ABDULLOH AL-HABSYI/MBAH SAYYID ARELI DATO KEMBANG (KRAMAT ANCOL)

29. SYARIFAH ENENG (KRAMAT ANCOL)

30. AL-HABIB HANUN BIN SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT ANCOL)

31. HABABAH SYARIFAH REGOAN BINTI HANUN BINTI SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT ANCOL)

32. AL-HABIB HASAN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (MBAH PRIUK)

33. AL-HABIB SYARIF MUHSIN BIN ‘ALI BIN ISHAQ BIN YAHYA (KRAMAT CILINCING)

34. AL-HABIB SYEIKH ABDUL HALIM BIN YAHYA (KRAMAT AL-ALAM MARUNDA)

35. AL-HABIB MUHAMMAD BIN UMAR AL-QUDSY (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)

36. AL-HABIB ‘ALI BIN ABDURROHMAN BA’ALAWY (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)

37. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN ALWI ASSATIRI (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)

38. SYARIFAH FATIMAH KECIL BINTI HUSEIN AL-AYDRUS (KRAMAT PEKOJAN)

39. AL-HABIB HUSEIN BIN ABU BAKAR AL-AYDRUS (KRAMAT LUAR BATANG)

40. AL-HABIB MUHAMMAD BIN SYEIKH BIN HUSEIN AL-BAHAR (KRAMAT TUNGGAK)

41. MU’ALLIM SYAFI’I HADZAMI BIN SHOLEH RO’IDI (KEBAYORAN)

42. AL-HABIB UTSMAN BIN ABDULLOH BIN AQIL BIN YAHYA BIN AL’ALAWY (PONDOK BAMBU)

43. PANGERAN SYARIF HAMID AL-QODRI BIN AL-HABIB SULTON SYARIF ABDUL ROHMAN AL-QODRY BIN MAULANA SYARIF HUSEIN (KRAMAT ANGKE)

44. SYARIFAH AMINAH BINTI PANGERAN SYARIF HUSEIN AL-HABSYI (KRAMAT ANGKE)

45. AL-HABIB SHOLEH AL-HABSYI (KRAMAT ANGKE)

46. KOMPI NA SYEIKH (KRAMAT ANGKE)

47. SYEIKH JA’FAR (KRAMAT ANGKE)

48. SYEIKH LIONG (KRAMAT ANGKE)

49. SYARIFAH MARIAM (KRAMAT ANGKE)

50. PANGERAN TUBAGUS ANJANI (KRAMAT ANGKE)

51. AL-HABIB SAYYID ABU BAKAR BIN SAYYID ALWI BAHSAN JAMALULLAIL (KRAMAT MANGGA DUA)

52. AL-HABIB ALWI BIN AHMAD JAMALULLAIL (KRAMAT MANGGA DUA)

53. AL-HABIB ABU BAKAR BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT WACUNG)

54. SYARIFAH HUDZAIFAH BINTI ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT WACUNG)

55. PANGERAN WIJAYA KUSUMA (KRAMAT KEDOYA)

56. PANGERAN PAPAK ADIPATI TANJUNG JAYA (KRAMAT PEDONGKELAN)

57. AL-HABIB UMAR BIN HAMID BIN HASAN BIN ABDULLOH BIN AHMAD BIIN HASAN BIN SHOHIBUL ROTIB AL-HADDAD (KRAMAT PESING)

58. AL-HABIB ABBAS BIN ABU BAKAR BIN HUSEIN BIN AHMAD BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT RAYA BOKOR)

59. AL-HABIB UTSMAN BIN MUHAMMAD BIN AHMAD BANAHSAN (KRAMAT ABIDIN)

60. AL-HABIB UMAR BIN UTSMAN BIN MUHAMMAD BANAHSAN (KRAMAT ABIDIN)

61. SHOHIBUL KAROMAH WAL BAROKAH AL-HABIB ABU BAKAR BIN ALWI BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT ABIDIN PONDOK BAMBU)

62. SAYYID HABIB HUSEIN BIN UMAR BIN ‘ALI BIN SYAHAB (KRAMAT PECENONGAN)

63. AL-HABIB ALI BIN SHOLEH ABDURROHMAN AL-QODRY RADEN ATENG KERTADRIA (KRAMAT JAYAKARTA)

64. AL-HABABAH SYARIFAH FATHIMAH (KRAMAT SAWAH BESAR)

65. AL-HABIB HASAN BIN ‘IDRUS AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)

66. AL-HABIB ABDUL QODIR BIN MUHAMMAD AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)

67. AL-HABIB UMAR BIN ‘IDRUS AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)

68. AL-HABIB ‘ALI BIN ABDURROHMAN AL-HABSYI (KWITANG)

69. AL-HABIB MUHAMMAD BIN ‘ALI BIN ABDURROHMAN AL-HABSYI KWITANG)

70. SYARIFAH NI’MAH BINTI ZEIN BIN AHMAD BIN SYAHAB (KWITANG)

71. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN ABDULLOH AL-HABSYI (KRAMAT CIKINI)

72. SYARIFAH AL-HABSYI (KRAMAT CIKINI)

73. SYEIKH UPU DAENG H.ARIF UDIN (KRAMAT SENEN, WAFAT TAHUN 17)

74. AL-HABIB ZEIN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

75. AL-HABIB AHMAD ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

76. AL-HABIB ‘ALI BIN ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

77. AL-HABIB UMAR BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

78. AL-HABIB ‘ALI BIN HASAN BIN UMAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

79. AL-HABIB THOHA BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

80. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN HASAN BIN SHAHAB (KALIBATA)

81. AL-HABIB ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA AL-HADDAD (KALIBATA)

82. AL-HABIB AHMAD BIN ‘ALWI BIN AHMAD BIN HASAN BIN ‘ABDULLOH AL-HADDAD / HABIB KUNCUNG (KALIBATA)

83. AL-HABIB ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA AL-HADDAD (KALIBATA)

84. AL-HABIB ABDULLOH BIN HUSEIN ASSAMI AL-ATHOS

85. AL-HABIB THOHA BIN MUHAMMAD BIN ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA BIN ABDULLOH BIN THOHA BIN UMAR BIN ALWI AL-HADDAD (KALIBATA)

86. SYEIKH RAHMATULLOH (KEBAYORAN)

87. DATUK BIRU (KRAMAT RAWA BANGKE)

88. AL-HABIB ZEIN BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (AL-HAWI)

89. AL-HABIB SALIM BIN JINDAN (AL-HAWI)

90. WAN SYARIFAH FATHIMAH BINTI ABDULLOH AL’AIDID (KRAMAT PETOGOGAN)

91. AL-HABIB ‘ALI BIN AHMAD BIN ZEIN AL’AIDID (KRAMAT PULAU PANGGANG, KECAMATAN PULAU SERIBU, JAKARTA / KRAMAT TIMUR)

92. AL-HABIB HUSEIN BIN AQIL BIN AHMAD BIN SOFI ASSEGAF (KRAMAT BARAT PULAU PANGGANG)

93. AL-HABIB MUSTOFA BIN IDRUS BIN HASAN AL-BAHAR (KRAMAT LUBANG BUAYA)

94. SAYYID AHMAD BIN HAMZAH AL-ATHOS (KRAMAT PEKOJAN)

95. AL-HABIB ZEIN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

96. AL-HABIB AHMAD ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

97. AL-HABIB ‘ALI BIN ZEIN ALHADDAD (KRAMAT PRIUK)

98. AL-HABIB MUHAMMAD BIN ABDUL QODIR AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)

99. AL-HABIB SALIM BIN THOHA JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

100. AL-HABIB UMAR BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

101. AL-HABIB ‘ALI BIN HASAN BIN UMAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)

102. RA KANJENG ADIPATI DALAM NEGERI 1 SOSRODININGRAT (KRAMAT JAYAKARTA)

103. RA AJENG SULARTI (KRAMAT JAYAKARTA)

104. SYEIKH MANSYUR (KRAMAT LIO-PASAR PAGI)

105. HABIB ALWI BIN HUSEIN AL-HABSYI (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)

106. HABIB MUHAMMAD BIN ALWI AL-HABSYI (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)

107. PANGERAN USMAN (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)

108. AL-HABIB SALIM BIN ABDULLOH AL-QODRY / PANGERAN SALIM (KRAMAT PULO GEBANG

Sabtu, 20 Agustus 2011

Laporan KEIMANAN versi AKUNTANSI

  1. Kumpulkan BUKTI-BUKTI keimanan dan takwa
  2. Gunakan Al-Qur’an dan Hadist sebagai STANDAR dan KRITERIA dalam penyusunan laporan
  3. Lakukan (STOCK) OPNAME dosa dan kesalahan
  4. TRASIR rekapitulasi kesalahan dan dosa-dosa
  5. POSTING shodaqoh, infaq, amal jariyah, dan zakat
  6. Siapkan dan buatlah REKONSILIASI silaturahim dengan sahabat dan kerabat
  7. Lakukan ELIMINASI perbuatan maksiat
  8. Susun Laporan KONSOLIDASI dosa dan pahala.
  9. Waspadai adanya SUBSEQUEN EVENT atas menipisnya ke-Islaman dan ke-Imanan setelah tanggal pelaporan
  10. Jika terdapat FINDING segera komunikasikan kepada YA ROBBANA
  11. Lakukan taubatan nasuha agar rapor ke-Imanan WAJAR TANPA PENGECUALIAN
  12. Segera lakukan prosedur tersebut diatas sebelum DEAD LINE usia tiba
  13. Untuk kesempurnaan laporan, buat DISCLOSURE atas kesalahan dan dosa kita sesama saudara/sahabat/ rekan/ dll

Penjelasan kamus Akuntan

  1. BUKTI-BUKTI; suatu alat yang digunakan oleh akuntan dalam menyusun laporan; Bukti eksternal lebih kuat daripada bukti Internal, Bukti ASLI lebih kuat dari pada bukti foto copian; Jadi Instropeksi yang berupa kritik / masukan / dll yang bukan dari diri sendiri lebih VALID dan obyektif
  2. STANDAR dan KRITERIA; Dalam melakukan audit, akuntan harus memiliki standar dan kriteria sebelum tugas dilaksanakan agar penilaian dapat dilakukan, jika salah kenapa salah standarnya apa, begitu kira-kira
  3. STOCK OPNAME / CASH OPNAME, OPNAME; suatu prosedur yang harus dilakukan dengan menghitung langsung keadaan fisik sebelum dilihat catatan-nya
  4. TRASIR; salah satu cara menelusuri asal-usul agar bisa didapat kepastian
  5. POSTING; proses membukukan aktivitas
  6. REKONSILIASI; dilakukan untuk mencocokan / mengakurkan angka-angka yang dilaporkan dari beberapa sumber
  7. ELIMINASI; salah satu metode yang dilakukan untuk seleksi
  8. KONSOLIDASI; jika perusahaan/ instansi memiliki banyak cabang; atau memiliki beberapa anak perusahaan maka dibuat laporan konsolidasi, disatukan agar tampak keseluruhannya
  9. SUBSEQUEN EVENT; kejadian yang terjadi setelah laporan dibuat; misal laporan selesai hari ini tgl 7/11; maka kita harus tetap mewaspadai dan mengikuti kejadian-kejadian setelah tanggal tersebut paling tidak 3 bulan atau 6 bulan kedepan, begitu seterusnya
  10. FINDING; Temuan-temuan selama proses pemeriksaan; biasanya berdasarkan Finding inilah dibuat rekomendasi perbaikannya dan saran-saran untuk periode yang akan datang; salah satu alat ukur prestasi Pemeriksa adalah dari Finding yang didapatnya
  11. WAJAR TANPA PENGECUALIAN; ada 4 jenis laporan
    1. Tertinggi Wajar Tanpa Pengecualian
    2. No2 Wajar DENGAN Pengecualian
    3. No3 TIDAK WAJAR
    4. Terjelek Menolak Memberikan pendapat atas laporan yang diperiksa
  12. DEATH LINE; Harus ada death line, kita kan bakal mati
  13. DISCLOSURE; Dalam laporan ada yang Full Disclosure ada juga yang perlu-perlu saja yang di-disclose.

Jumat, 24 Juni 2011

MAKNA

"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya."

"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir."

"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir"

"Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir, Bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi."

"Seseorang yang hidupnya hanya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal batas, malas serta tidak bersemangat, maka Mara (Penggoda) akan menguasai dirinya. bagaikan angin yang menumbangkan pohon yang lapuk."

"Barang siapa yang belum bebas, dari kekotoran-kekotoran batin. yang tidak memiliki pengendalian diri, serta tidak mengerti kebenaran. sesungguhnya tidak patut, ia mengenakan jubah kuning."

"Tetapi, ia yang telah dapat, membuang kekotoran-kekotoran batin, teguh dalam kesusilaan. memiliki pengendalian diri. serta mengerti kebenaran. maka sesungguhnya ia patut, mengenakan jubah kuning."

"Mereka yang menganggap, ketidak-benaran sebagai kebenaran. dan kebenaran sebagai ketidak-benaran. maka mereka yang mempunyai, pikiran keliru seperti itu, tak akan pernah dapat, menyelami kebenaran."

Mereka yang mengetahui, kebenaran sebagai kebenaran. dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran, maka mereka yang mempunyai, pikiran benar seperti itu, akan dapat menyelami kebenaran.

"Bagaikan hujan, yang dapat menembus rumah beratap tiris. demikian pula nafsu, akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik."

"Bagaikan hujan, yang tidak dapat menembus rumah beratap baik. demikian pula nafsu, tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik."

"Di dunia ini ia bersedih hati. Di dunia sana ia bersedih hati. Pelaku kejahatan akan bersedih hati, di kedua dunia itu. Ia bersedih hati dan meratap, karena melihat perbuatannya sendiri, yang tidak bersih."

"Di dunia ini ia bergembira. Di dunia sana ia bergembira. Pelaku kebajikan, bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita karena, melihat perbuatannya sendiri yang bersih."

"Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai ajaran, maka orang lengah itu, sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tak akan memperoleh, manfaat kehidupan suci.

"Biarpun seseorang sedikit membaca kitab suci, tetapi berbuat sesuai dengan ajaran, menyingkirkan nafsu indria, kebencian dan ketidaktahuan, memiliki pengetahuan benar, dan batin yang bebas dari nafsu, tidak melekat pada apapun, baik di sini maupun di sana; maka ia akan memperoleh, manfaat kehidupan suci."

"Pikiran sangat sulit untuk dilihat, amat lembut dan halus, pikiran bergerak sesuka hatinya. Orang bijaksana selalu menjaga pikirannya, seseorang yang menjaga pikirannya akan berbahagia."

"Pikiran itu selalu mengembara jauh, tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati. Mereka yang dapat mengendalikannya, akan bebas dari jeratan Mara."

"Orang yang pikirannya tidak teguh, yang tidak mengenal ajaran yang benar, yang keyakinannya selalu goyah, orang seperti itu tidak akan sempurna kebijaksanaannya."

"Orang yang pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian, yang telah mengatasi keadaan baik dan buruk, di dalam diri orang yang selalu sadar seperti itu tidak ada lagi ketakutan."

"Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa benci."

"Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang berpenyakit; di antara orang-orang yang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit."

"Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan."

"Sungguh bahagia hidup kita ini apabila sudah tidak terikat lagi oleh rasa ingin memiliki. Kita akan hidup dengan bahagia bagaikan dewa-dewa di alam yang cemerlang."

Rabu, 18 Mei 2011

ADAB KEPADA ALLAH SWT

Seorang muslim hendaknya melihat segala sesuatu yang telah diberikan Allah kepadanya dengan tiada terhingga, yakni berupa nikmat yang tidak terhitung, terlindungnya dia pada saat menempel di dalam rahim ibunya ketika berupa nuthfah (air mani), menentukan perjalanan hidupnya, hingga hari bertemu dengan Rabb-nya azza wa Jalla. Maka hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas nikmat itu dengan lisannya, yakni memuji dan menyanjung-Nya dengan semestinya. Juga bersyukur kepada Allah dengan anggota badan, dengan cara menggunakannya di dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka tidaklah punya adab orang yang mengingkari nikmat, tidak mengakui kelebihan yang diberikan Allah, mengingkari-Nya beserta kebaikan-Nya.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

  وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

  “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)

Juga firman-Nya:

  وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

  “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)

  فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

  “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)

   

Seorang muslim juga hendaknya melihat apa yang dilakukan oleh Allah, bagaimana Dia memperhatikan seluruh tindak tanduknya sehingga hati akan dipenuhi dengan keagungan-Nya, jiwanya tunduk dan selalu mengagungkan-Nya. Maka dia akan takut bermaksiat kepada-Nya, malu untuk menyelisihi perintah-Nya dan keluar dari ketaatan kepada-Nya. Ini semua merupakan adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidaklah memiliki adab (kepada-Nya) seorang hamba yang terang-terangan bermaksiat kepada Rabb-nya, atau menghadap kepada-Nya dengan berbagai keburukan dan perilaku rendahan padahal Dia menyaksikan dan melihatnya.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;:

  مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

  “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.” (Nuh: 13-14)

  وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

  “Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.” (An-Nahl: 19)

  وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ

  “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit.” (Yunus: 61)

   

Seorang muslim harus memandang bahwa Allah adalah berkuasa atasnya, Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya) dan bahwasanya tidak ada tempat berlindung dan lari dari-Nya kecuali hanya kepada-Nya semata. Maka hendaknya ia lari menuju Allah, menghambur ke hadapan-Nya, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya. Ini semua merupakan adab kepada Rabb dan penciptanya.

Oleh karena itu, tidaklah beradab jika seseorang lari kepada sesuatu yang tidak punya tempat pelarian, bersandar kepada yang tidak memiliki kemampuan apapun serta bertawakkal kepada yang tidak memiliki daya upaya dan kekuatan.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

  إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا

  “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.” (Hud: 56)

  فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

  “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” ( Adz-Dzariyat: 50)

  وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

  “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Al-Maaiidah: 23)

   

Seorang muslim juga harus melihat kepada kelemahlembutan Allah kepadanya di dalam setiap urusannya, melihat kepada kasih sayang Allah kepada dirinya dan seluruh makhluk-Nya, lalu berkeinginan yang kuat untuk mendapatkan tambahan kelembutan dan kasih sayang itu. Sehingga dirinya akan selalu merendahkan diri kepada-Nya dengan kerendahan yang murni dan dengan do’a, bertawasul kepada-Nya dengan perkataan yang baik dan amal shalih.

Ini semua merupakan adab terhadap Allah yang menguasainya, maka dikatakan tidak memiliki adab orang yang berputus asa dari mencari tambahan rahmat-Nya, yang luasnya meliputi segala sesuatu, berputus asa dari kebaikan Allah yang tak terhingga yang mencakup seluruh alam semesta serta kelembutan-Nya yang tercurah untuk segenap makhluk.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

  وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

  “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raaf: 156)

  اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ

  “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hambay-Nya.” (Asy-Syura: 19)

  وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ

  ” Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Yusuf: 87)

  لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

  “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Az-Zumar: 53)

   

Seorang muslim harus melihat bagaimana dahsyatnya siksaan Rabb-nya, kerasnya adzab dan kecepatan-Nya di dalam menghitung, sehingga dia bertakwa (takut) kepada-Nya, menjaga diri terhadap-Nya serta meninggalkan segala kemaksiatan, maka ini pun merupakan bentuk adab kepada Allah. Sehingga tidaklah seseorang itu beradab menurut orang yang berakal apabila ia menentang Allah dan berlaku aniaya (zhalim), padahal ia seorang hamba yang lemah namun justru menentang Rabb yang Maha Perkasa dan Kuasa, Maha Kuat dan Perkasa.

 

Dia telah berfirman:

  وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

  “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11)

  إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

  “Sesungguhnya adzab Rabb-mu benar-benar keras.” (Al-Buruj: 12)

  وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

  ” Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (Ali-’Imran: 4)

   

Seorang muslim harus memandang Allah Azza wa Jalla ketika ia berbuat maksiat atau keluar dari ketaatan terhadap-Nya, bahwa seakan-akan ancaman-Nya telah sampai kepadanya, adzab-Nya seakan telah turun, dan balasan-Nya telah tiba di sekitarnya. Demikian pula ketika dia melakukan ketaatan dan mengikuti syari’at-Nya maka seakan-akan Allah telah membuktikan janji-Nya kepadanya.

 

 

Seolah-olah keridhaan-Nya telah diberikan, sehingga dengan itu jadilah ia seorang muslim yang berbaik sangka kepada Allah. Dan baik sangka (husnuzh zhan) kepada Allah merupakan salah satu adab seorang muslim kepada Allah. Maka bukan merupakan adab kepada Allah jika seorangb muslim berburuk sangka (su’uzh zhan) kepada-Nya, sehingga dia keluar dari ketaatan kepada-Nya, mengira bahwa Allah tidak memperhatikannya serta tidak akan memberikan balasan atas dosa yang dia kerjakan itu, padahal Allah telah berfirman:

 

  وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

  “Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Fushshilat: 22-23)

   

Juga bukan merupakan adab kepada Allah jika seseorang bertakwa kepada Allah dan mentaatinya namun berprasangka bahwa Allah tidak akan memberikan balasan kepadanya atas amal baik yang telah dia kerjakan itu dan tidak memberikan pahala terhadap ketaatan dan ibadahnya, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman;

 

  وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

  ” Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (An-Nuur: 52)

  مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

  “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

  مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

  “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-An’aam: 160)

   

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa syukurnya seorang muslim kepada Rabb-nya atas nikmat yang diberikan, rasa malu kepada-Nya untuk condong berbuat maksiat, kembali kepada-Nya secara benar, bertawakkal kepada-Nya serta mengharap rahmat-Nya, kemudian takut terhadap siksa-Nya, berbaik sangka kepada-Nya akan kebenaran janji-Nya serta pelaksanaan ancaman bagi siapa yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya, maka ini semua merupakan adab-adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Semakin tinggi tingkat tamassuk (berpegang teguh) dengan adab ini dan semakin seseorang menjaganya, maka dia akan semakin tinggi derajatnya, makin naik kedudukannya dan terus menanjak posisinya, serta kemuliaannya semakin besar sehingga jadilah dia termasuk di antara orang-orang yang berada dalam wilayah (cinta dan pembelaan) Allah, dalam pemeliharaan-Nya, diliputi rahmat-Nya, serta berhak mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dari Allah.

Inilah yang senantiasa didambakan oleh seorang muslim dan yang menjadi angan-angannya sepanjang hidup.

Ya Allah, berikanlah kepada kami cinta dan pembelaan-Mu, janganlah Engkau halangi kami dari penjagaan-Mu, dan jadikanlah kami semua di sisi-Mu sebagai al-muqarrabin (orang yang dekat dengan-Mu), ya Allah ya Rabb seru sekalian alam.

PON terjebak'

Tanda Batin Weton Pon Sering Tertipu “Doa Menjadi Kaya” Namun Faktanya Rezeki Tak Naik dan Hidup Tak Berubah Weton Pon dikenal memiliki daya...